Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Menasehati pemimpin termasuk perkara agama yang paling penting. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya, dari Tamim Ad-Dari radiallahuanhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Agama adalah nasehat, kami bertanya:”Untuk siapa ? Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kuam muslimin, dan seluruh kaum musliman”.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya, dari Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu , dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
ثَلاَثٌ لاَ يُغَلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومِ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
“Tiga perkara yang membuat hati seorang muslim tidak berkhianat: ”Mengikhlaskan amal kepada Allah, menasehati para pemimpin kaum muslimin , dan menetapi jama’ah mereka karena do’a meliputi ( mereka) dari belakang mereka”.
Adapun ma’na hadis diatas: ”Bahwa tiga perkara yaitu: ”Mengikhlaskan amal kepada Allah Azza wa Jalla, menasehati pemimpin, dan menetapi jama’ah, barangsiapa yang melaksanakannya maka tiadak ada dalam hatinya sikap khianat, menipu, dan dengki.
Berkata Abu Nu’aim Al-Asbahani: ”Barangsiapa yang menasehati para pemimpin dan para penguasa maka ia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa menipu mereka maka ia telah sesat dan berbuat zolim”.
Bentuk-Bentuk Menasehati Pemimpin
Menasehati pemimpin ada empat bentuk:
Bentuk Pertama: ”Seseorang menasehati pemimpin secara rahasia”.
Bentuk Kedua: ”Menasehati pemimpin dihadapannya secara terang-terangan ditengah-tengah masyarakat, padahal ia mampu menasehatinya secara rahasia”.
Bentuk Ketiga: ”Seseorang menasehati pemimpin secara rahasia, kemudian ia pergi dan menyebarkan nasehat tersebut ditengah-tengah masyarakat”.
Bentuk Keempat: ”Mengingkari pemimpin pada saat ia tadak ada ditengah-tengah majlis, ketika memberi nasehat, ceramah, menyampaikan pelajaran, dan lain-lain”.
Keempat bentuk ini akan kami sebutkan -Insya Allah- satu demi satu.

Bentuk pertama: ”Seseorang Menasehati Pemimpin Secara Rahasia”
Menasehati pemimpin secara rahasia termasuk pokok man’haj salaf yang telah diselisihi oleh Ahlul ah’wa (pengikut hawa nafsu) dan Ahlu bid’ah, seperti khawarij.
Karena hukum asal menasehati pemimpin adalah menasehati secara rahasia, tidak dengan cara terang-terangan. Adapun dalilnya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Iyadh radiallahuanhu , ia berkata:”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ »
“Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin karena suatu hal maka jangalah ia melakukannya secara tereng-terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya dan menyendiri dengannya (secara empat mata) . Jika pemimpin tersebut menerima nasehatnya maka itu yang inginkan, jika tidak maka ia telah melaksanakan kewajibannya”.
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin karena suatu hal” maksudnya, Umum siapa saja penasehatnya dan umum siapa saja pemimpinnya.
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”maka jangalah ia melakukannya secara terang-terangan” maksudnya, larangan melakukan nasehat secara terang-terangan, dan larangan itu menunjukkan haram, oleh karena itu wajib melakukan nasehat secara rahasia.
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya” maksudnya, penjelasan tentang menasehati pemimpin dengan cara yang sya’ri yaitu, secara rahasia bukan dengan cara terang-terangan.
Sabda Naba shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “dan menyendiri dengannya” maksudnya, menyendiri (empat mata). Seperti perkataan Usamah radiallahuanhu: ”Apakah menurut kalian saya tidak berbicara dengannya melainkan saya harus menyampaikan kepada kalian ? Demi Allah, sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata”. Sebagaimana diriwayatkan Bukhori dan Muslim dalam Shahih keduanya, dari Syaqiq, dari Usamah bin Zaid radiallahuanhu,ia berkata:
قِيلَ لَهُ أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَه
”Ada yang bertanya kepadanya: ”Tidakkah kamu menemui Utsman kemudian kamu berbicara dengannya ? Ia jawab: ”Apakah menurut kalian saya tidak berbicara dengannya melainkan saya harus menyampaikannya kepada kalian ? Demi Allah, sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata tanpa membuka suatu perkara yang saya tidak suka sayalah orang pertama yang membukanya”.
Atsar diatas menunjukkan bahwa menasehati pemimpin secara terang-terangan merupakan perkara mungkar yang akan menimbulkan fit’nah, (sebaliknya) nasehat secara rahasia merupakan asas yang akan memudahkan terlaksananya nasehat tanpa menimbulkan fit’nah dan kekacauan dari rakyat terhadap pemimpin. Sebagaimana perkataan Usamah radiallahuanhu : ”Demi Allah , sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata”.
Berkata Syeikh Ibnu Baaz ketika memberikan catatan terhadap atsar Usamah radiallahuanhu: ”Tatkala mereka memunculkan kejelekan di zaman Utsman radiallahuanhu dan mengingkari Utsman radiallahuanhu secara terang-terangan maka tersebarlah fit’nah, peperangan, dan kerusakan yang senantiasa bekas-bekasnya masih dirasakan oleh orang-orang sampai hari ini, hingga terjadilah fit’nah antara Ali radiallahuanhu dan Muawiyyah radiallahuanhu serta terbunuhnya Utsman radiallahuanhu dan Ali radiallahuanhu disebabkan hal itu. Bahkan sebagian besar dari para sahabat dan selain mereka terbunuh disebabkan pengingkaran (terhadap pemimpin) dan penyebutan aib-aib mereka yang dilakukan secara terang-terangan, sehingga masyarakat menjadi benci terhadap pemimpin mereka lalu mereka membunuhnya. Hanya kepada Allah Azza wa Jalla kita memohan keselamatan”.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Sa’id bin Jum’han, ia berkata: ”Saya pernah berjumpa dengan Abdullah bin Abi Aufa radiallahuanhu , kemudian saya berkata kepadannya: ”Sesungguhnya pemimpin telah berbuat zolim terhadap masyarakat, ia (Ibnu jum’han ) melanjutkan: ”Lalu Abdullah menarik tangan saya dan memegangnya kuat-kuat dengan tangannya kemudian ia (Abdullah) berkata: ”Celaka kamu wahai Ibnu Jum’han, hendaknya kamu menetapi jama’ah, hendaknya kamu menetapi jama’ah. Bila pemimpin mau mendengarkan kamu maka datangilah ia, lalu kabarkanlah kepadanya apa yang kamu ketahui, jika ia menerima (nasehat) darimu maka (itulah yang diharapkan), jika tidak maka biarkanlah ia, karena ia lebih tahu daripada kamu”.
Perhatikanlah (atsar) diatas bagaimana sahabat yang mulia Ibnu Abi Aufa  melarang Ibnu Jum’han membicarakan pemimpin dan memerintahnya untuk menasehati pemimpin scara rahasia, tidak secara terang-terangan.
Berkata Ibnu Nuhaas: ”Pilihlah berbicara dengan pemimpin ditempat yang sunyi daripada berbicara dengannya di hadapan orang banyak”.
Berkata Imam Syaukani: ”Selayaknya bagi orang yang mengetahui kesalahan pemimpin di sebagian masalah menasehatinya dan janganlah ia tampakkan kesalahan tersebut dihadapan orang-orang, akan tetapi (hendaklah ia lakukan) apa yang tertera dalam hadis yaitu, memegang tanganya dan menyendiri dengannya, serta memberikan nasehat kepadanya dan tidak merendahkannya”.
Berkata Aimmatu Da’wah: ”Kema’siatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh para pemimpin yang tidak menyebabkan kafir dan keluar dari islam maka kewajiban (kita) adalah menasehati mereka dengan cara yang syar’i, penuh kelembutan, dan mengikuti apa yang telah ditempuh Salafus Shaleh dengan tidak mencela mereka dimajelis-majelis dan tempat berkumpulnya orang-orang”.
Berkata Al-Allamah As-Sa’di: ”Orang yang melihat para pemimpin melakukan sesuatu yang tidak halal maka hendaklah ia mengingatkan mereka secara rahasia, tidak dengan terang-terangan, dengan penuh kelembutan dan menggunakan kata-kata yang sesuai dengan kedudukan mereka”.
Berkat Syeikh Ibnu Baaz: ”Cara yang telah ditempuh oleh para Salaf yaitu, mereka menasehati pemimpin secara empat mata, menulis surat buat mereka (para pemimpin), atau menghubungi para ulama’ yang bisa menghubungi pemimpin sehingga pemimpin tersebut bisa diarahkan kepada kebaikan”.
Mengingkari kemungkaran hendaknya dilakukan dengan tidak menyebutkan pelakunya. Maka yang diingkari adalah zina, khomer, dan riba tanpa disebutkan pelakunya, jadi cukup mengingkari dan memperingatkan ma’siat tanpa menyebutkan bahwa sianulah yang telah melakukannya, ini diterapkan bagi pemimpin dan selain pemimpin”.

Bentuk Kedua: ”Menasehati Pemimpin Di Hadapannya Secara Terang-Terangan, Di Tengah-Tengah Masyarakat, Padahal Ia Mampu Menasehatinya Secara Rahasia”
Bentuk nasahat seperti ini diharamkan, tidak boleh dilakukan karena beberapa alasan berikut ini:
1. Menyelisihi hadis Iyadh bin Gonm radiallahuanhu, karena dalam hadis tersebut terdapat perintah untuk menasehati secara rahasia.
2. Menyelisihi atsar Salaf dan man’haj (cara) mereka, seperti Usamah bin Zaid , Abdullah Ibnu Abi Aufa radiallahuanhu dan yang lainnya.
3. Masuk dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”Barangsiapa yang menghina pemimpin Allah di dunia maka Allah akan menghinakannya”. (H.R Tirmidzi).
Berkata Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz bin Utsaimin: ”Apabila membicarakan pemimpin di saat ia tidak ada atau menasehatinya secara terang-terangan kemudian menyebarkan nasehat tersabut merupakan bentuk penghinaan terhadap pemimpin yang pelakunya diancam oleh Allah dengan penghinaan-Nya maka tidak diragukan lagi bahwa wajib memperhatikan apa yang telah kami sebutkan yaitu, nasehat secara rahasia bagi orang yang mampu menasehati mereka dari kalangan para ulama yang bisa menemui mereka”.
Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab: ”Apabila muncul kemungkaran dari seorang pemimpin atau orang lain maka hendaklah dinasehati dengan lemah lembut dan dilakukan secara rahasia tanpa diketahui oleh seorangpun. Jika ia menerima nasehat tersebut maka (itulah yang diinginkan), jika tidak hendaklah diutus seseorang secara diam-diam yang perkataanya diterima, jika ia tetap tidak mau laksanakan maka tidak mengapa diingkari secara terang-terangan. Hanya saja bila yang dinasehati adalah pemimpin kemudian ia tidak mau menerimanya, dan telah diutus seseorang namun ia tetap tidak mau menerima maka perkara ini akan kami selesaikan secara diam-diam”.

Bentuk Ketiga: ”Seseorang Menasehati Pemimpin Secara Rahasia, Kemudian Ia Pergi Dan Menyebarkan Nasehat Tersebut Di Tengah-Tengah Masyarakat”
Bentuk nasahat seperti ini diharamkan karena beberapa alasan:
1. Menyelishi hadis Iyadh bin Gonm radiallahuanhu, sebab maksud dan tujuannya adalah tidak menampakkan nasehat tersebut dihadapan orang-orang karena akan menimbulkan berbagai macam kerusakan.
2. Menyelisihi petunjuk Salaf (berkaitan dengan sikap mereka) terhadap para pemimpin.
3. Bentuk nasehat seperti ini akan menimbulkan riya dan termasuk tanda lemahnya keikhlasan.
4. Bentuk nasehat seperti ini akan menimbulkan fit’nah, kekacauan, dan perpecahan ditengah-tengah masyarakat.
5. Bentuk nasehat seperti ini termasuk tindakan perendahan terhadap pemimpin. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله
“Barangsiapa yang menghina pemimpin Allah di dunia maka Allah akan menghinakannya”.
Berkata Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz bin Utsaimin: ”Apabila membicarakan pemimpin di saat ia tidak ada atau menasehatinya secara terang-terangan kemudian menyebarkan nasehat tersabut merupakan bentuk penghinaan terhadap pemimpin yang pelakunya diancam oleh Allah Azza wa Jalla dengan penghinaan-Nya maka tidak diragukan lagi bahwa wajib memperhatikan apa yang telah kami sebutkan yaitu, nasehat secara rahasia bagi orang yang mampu menasehati mereka dari kalangan para ulama yang bisa menemui mereka”.
Berkata Syeikh Sa’di: ”(Nasehatilah pemimpin) dengan cara yang terpuji yaitu, – secara rahasia dan dengan penuh kelembutan -. Wahai seorang penasehat berhati-hatilah, (jangan sampai) kamu merusak nasehatmu dengan memuji-muji dirimu dihadapan orang-orang, lalu kamu katakan kepada mereka: ”Sesungguhnya saya telah menasehati pemimpin, saya telah mengatakan ini dan itu, karena ini semua merupakan tanda riya dan tanda lemahnya keikhlasan serta terdapat bahaya-bahaya lain yang telah diketahui”.
Bentuk Keempat: ”Menasehati Pemimpin Di Saat Ia Tidak Ada, Di Tengah-Tengah Majelis, Ketika Memberi Nasehat, Ceramah, Menyampaikan Pelajaran, Dan Lain-Lain”
Bentuk nasehat seperti ini diharamkan karena beberapa alasan:
1. Ini merupakan perbuatan gibah dan kedustaan terhadap pemimpin. Allah  berfirman:
“Janganlah mengunjingkan satu sama lain”. (Al-Hujaraat:12).
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shohihnya, dari Abu Hurairah radiallahuanhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tahukah kalian apa itu gibah ? Para sahabat berkata: ” Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Kamu menyebutkan sesuatu yang dibenci saudaramu, ada yang bertanya: ”Bagaimana menurut anda bila yang saya sebutkan ada pada diri saudara saya ! Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Jika yang kamu sebutkan ada pada dirinya maka kamu telah menggibahinya, jika (yang kamu sebutkan) tidak ada pada dirinya maka kamu telah berbuat dusta”.
Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya  telah melarang gibah, tidak diragukan lagi bahwa membicarakan pemimpin disaat ia tidak ada termasuk gibah walaupun yang dibicarakan benar, jika yang dibicarakan tidak benar maka itu suatu kedustaan.
2. Bentuk nasehat seperti ini termasuk perbuatan adu domba yang akan menimbulkan fit’nah dan kekacauan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, dari Abdullah bin Mas’ud , ia berkata: ”Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ هِىَ النَّمِيمَةُ الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ »
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang Al-Adh ? Ia adalah An- Namimah yaitu: ”Banyak menukil diantara manusia (mengadu damba)”.
3. Bentuk nasehat seperti ini menyelisihi hadis Iyadh bin Gonm radiallahuanhu yang menjelaskan wajibnya menasehati secara rahasia.
4. Bentuk nasehat seperti ini menyelisihi petunjuk Salaf berkaitan dengan cara menasehati pemimpin.
5. Bentuk nasehat seperti ini termasuk tindakan penghinaan terhadap pemimpin dan ini diharamkan.
6. Bentuk nasehat seperti ini bisa mengakibatkan pertumpahan darah dan pembunuhan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad didalam Thobaqoot, dari Abdullah bin Ukaim Al-Juhani, ia berkata:
”Saya tidak akan lagi membatu terjadinya pertumpahan darah seorang Kholifah buat selama-lamanya setelah Utsman radiallahuanhu !!. Ada yang bertanya kepadanya:”Ya Abu Ma’bad apkah kamu yang telah membantu sehingga darahnya mengalir ? Ia jawab:”(Iya) karena saya telah membantu menyebutkan kejelekan-kejelekannya sehingga darahnya mengalir !”.
Perhatikanlah atsar diatas dengan baik yang mana menyebutkan kejelekan-kejelekan pemimpin dianggap sebagai perbuatan membantu terjadinya pertumpahan darah.
Berkata Aimmatu Da’wah: ”Segala Kema’siatan dan pelanggaran yang tidak meyebabkan kafir dan keluar dari islam, yang dilakukan para pemimpin maka kewajiban kita adalah menasehati mereka dengan cara yang syar’i, penuh kelembutan, mengikuti cara Salafus Shaleh dan tidak mencela mereka di majelis-majelis dan tempat berkumpulnya orang-orang. Adapun keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan termasuk kemungkaran yang wajib diingkari oleh setiap orang, (keyakinan seperti ini) merupakan kesalahan yang buruk dan kebodohan yang jelas, pelakunya tidak mengetahui akibat yang timbul (dari keyakinan tersebut) berupa kerusakan-kerusakan besar yang menimpa agama dan dunia. Hal ini telah diketahui oleh orang yang Allah Azza wa Jalla terangi hatinya dan ia mengetahui jalan Salafus Sholeh serta Aimmatu Diin”.
Berata Syeikh Ibnu Utsaimin: ”Sebagian orang terbiasa di setiap majelisnya membicarakan para pemimpin, mencela kehormatan-kehormatan mereka, menyebarkan keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan mereka, sebaliknya ia malah berpaling dari kebaikan-kebaikan dan kebenaran yang telah mereka lakukan. Tidak diragukan lagi bahwa tindakkan seperti ini (melupakan kebaikan-kebaikan mereka) dan mencela kehormatan-kehormatan mereka tidaklah menambah melainkan malapetaka. Sebab tindakan seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah dan menghilangkan kezoliman, akan tetapi hanya akan menambah musibah dan musibah, memancing kebencian mereka, dan perintah-perintah mereka yang wajib dita’ati tidak akan dilaksanakan”.
Berkata Syeikh Ibnu Baaz: ”Menyebarkan aib para pemimpin dan menyebutkan aib mereka diatas mimbar-mimbar bukannlah man’haj salaf, karena hal itu akan menimbulkan revolusi-revolusi dan akan meniadakan (kewajiban) patuh dan ta’at (terhadap mereka) dalam kebaikan serta akan menimbulkan pemberontakan yang berbahaya dan tidak bermanfa’at”.
Berkata Syeikh Ibnu Utsaimin: ”Demi Allah, demi Allah pemahaman man’haj Salafus Shalih dalam bermuamalah dengan pemimpin adalah dengan tidak menjadikan kesalahan-kesalahan mereka sebagai jalan untuk memprovokasi masyarakat dan membuat mereka benci terhadap para pemimpin, karena ini adalah biang dari kerusakan dan merupakan sebab utama terjadanya fit’nah ditengah-tengah masyarakat. Sebagaimana kebencian terhadap para pemimpin akan menimbulkan kejelekan, fit’nah, dan kekacauan demikian pula kebencian terhadap para ulama akan menimbulkan sikap merendahkan kedudukan para ulama, selanjutnya meremehkan syariat yang dibawa oleh mereka (para ulama). Apabila seseorang berusaha merendahkan kedudukan para ulama dan para pemimpin niscaya syariat dan keamanan akan terabaikan, sebab masyarakat, apabila telah membicarakan para ulama maka mereka tidak akan lagi percaya terhadap perkataan mereka (para ulama) dan apabila mereka telah membicarakan para pemimpin maka mereka akan menolak perkataan para pemimpin kemudaian terjadilah kejelekan dan kerusakan.
Oleh karena itu wajib bagi kita memperhatikan apa yang telah ditempuh para Salaf dalam bergaul dengan para pemimpin dan hendaklah masing-masing orang mengoreksi dirinya serta mengetahui akibat dari perbuatannya.
Perlu diketahui bahwa orang yang melakukan pemberontakan (pada hakekatnya) ia hanya memberikan bantuan terhadap musuh-musuh islam, keberhasilan itu bukan dengan pemberontakan dan kemarahan akan tetapi keberhasilan itu dengan hikmah (kebijaksanaan).
Bukanlah maksud saya bahwa hikmah di sini berarti diam dari kesalahan, akan tetapi memperbaiki kesalahan, hendaklah kita memperbaiki kesalahan-kesalahan, bukan merubah kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu seorang penasehat dialah yang berbicara untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, bukan merubah kesalahan-kesalahan.
Ditrjemahkan dari kitab ”As-Sunnah fii Maa Yata’allaq bi Waliyil Ummah” karya Syeikh Al-Fadhil Al-Allamah As-Salafi Ahmad Ibnu Umar bin Salim Bazamul dengan sedikit perubahan. Penerjemeh Abu Hafidz Amir As-Soron’ji.

Iklan

Comments on: "Cara Hikmah Menasehati Pemimpin" (2)

  1. Bismillah. Assalamualaikum warohmatullohibabarakatuh.
    Ikhwah sekalian fillan. Ana sengaja memberanikan memberitahukan di sini, bahwa Al-Ustadz Abu Umar basir hafizhahullah sedang berada dalam kesulitan. Setelah mertua lelakinya, ayahnya, sekarang mertuanya sedang membutuhkan biaya besar untuk operasi dan pengobatan mata. Beliau tidak ada meminta dana bantuan. Tapi sangat disayangkan, nyaris tak ada ikhwan yang membantu. padahal selama ini beliau sangat gigih menggalang dana untuk para korban bencana, mulai dari di Sumatra Barat hingga Merapi. Ada baiknya kita menolong meringankan beban beliau, mengirimkan infaq semampu kita ke rec beliau di atas: BCA ABU UMAR BASYIR 7850278029. Mohon disebarkan ikhwah sekalian. Jazakumulohu khiron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: