Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Archive for the ‘Info’ Category

Kalender Hijriyyah 1434

Mari Kita Masyarakatkan Kalender Islami!

Islamic Calendar 2013 (1434)

Printable Islamic Calendar 2013 / Hijri Calendar 2013 for Makkah (Islamic Year 1434). This calendar is in Arabic & English. Important islamic events have been marked in the calendar.

Klik di sono atau klik di sini di sunu juga boleh. Atau mau buat di Ms Word gunakan ini.

Safari Dakwah

Download Rekaman Safari Dakwah Ust. Kholid Syamhudi, Lc

Safari Dakwah

Sholat Gerhana

Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berselisih mengenai tata caranya.

Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama.(Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435-437)

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901)

“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Ringkasnya, agar tidak terlalu berpanjang lebar, tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:

[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.

[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.

[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membacasurat Al Fatihah dan membacasurat yang panjang (sepertisurat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:

جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)

[4] Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.

[5] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’

[6] Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membacasurat Al Fatihah dansurat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

[7] Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.

[8]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).

[9] Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.

[10] Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

[11] Salam.

[12] Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1/438)

SHALAT GERHANA BERJAMA’AH ATAU SENDIRI2?

Dalam hadits Â’isyah Radhiyallâhu ‘anhâ, beliau berkata :

خرج النبي صلى الله عليه وسلم إلى المسجد، فقام وكبر، وصف الناس وراءه

“Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju ke masjid, kemudian beliau berdiri dan bertakbir, sedangkan manusia berbaris di belakang beliau.” (Muttafaq ‘alaihi)

Para ulama berbeda pendapat tentang disyariatkannya jama’ah pada sholat gerhana. Mereka membedakan antara sholat kusûf (gerhana matahari) dan khusûf (gerhana bulan).

Ulama ahli fikih bersepakat bahwa sholat gerhana matahari disunnah untuk dilaksanakan secara berjama’ah di masjid dan diserukan sebelumnya dengan seruan : “ash-Sholatu Jâmi’ah”. Syâfi’iyah dan Hanâbilah memperbolehkan untuk melakukannya secara sendiri-sendiri (munfarid), dengan alasan berjama’ah hanyalah sebatas sunnah saja, bukanlah merupakan syarat. Sedangkan Hanafiyah berpendapat, apabila imam tidak datang, maka manusia boleh sholat sendiri-sendiri di rumah mereka.

Adapun sholat gerhana bulan, Hanafiyah dan Mâlikiyah berpendapat lebih disukai untuk melaksanakannya secara munfarid sebagaimana sholat-sholat sunnah lainnya. Sebab, menurut mereka, sholat gerhana bulan belum pernah ada yang menukilkan pernah dilaksanakan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, padahal gerhana bulan itu lebih sering terjadi ketimbang gerhana matahari. Mereka juga beralasan bahwa hukum asal sholat yang bukan wajib adalah tidak dilaksanakan secara berjama’ah dan dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam :

صلاة الرجل في بيته أفضل إلا المكتوبة

“Sholatnya seseorang di rumahnya adalah lebih utama, kecuali sholat yang wajib.”

Kecuali, apabila ada dalil khusus yang menunjukkan pelaksanaannya secara berjama’ah, seperti sholat îd, tarawih dan gerhana matahari. Menurut mereka, berkumpul pada malam hari dapat menyebabkan timbulnya fitnah.

Sedangkan Syâfi’iyah dan Hanâbilah berpendapat bahwa sholat gerhana bulan (khusûf) dilakukan secara berjama’ah sebagaimana sholat gerhana matahari (kusûf). Mereka juga melandaskan pendapatnya dengan riwayat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhumâ yang melakukan sholat gerhana bulan bersama manusia di masjid, beliau berkata :

صليت كما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Saya melakukan sholat sebagaimana saya melihat Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukannya.”

Sebagaimana pula di dalam hadits Mahmûd bin Lubaid, beliau mengatakan :

فإذا رأيتموها كذلك فافزعوا إلى المساجد

“Apabila kalian melihat gerhana bulan, maka bersegeralah ke masjid.”

Pendapat yang râjih adalah, tidak ada bedanya antara sholat gerhana matahari dan bulan. Disunnahkan untuk melakukannya secara berjama’ah di masjid, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Qudâmah. Walaupun dibolehkan melakukannya secara sendiri-sendiri, namun mengamalkannya secara berjama’ah adalah lebih utama, sebab nabi melakukan sholat gerhana secara berjama’ah dan disunnahkan untuk mengamalkannya di masjid. (al-Mughnî III/323)
[http://id-id.connect.facebook.com/note.php?note_id=143500945713871]

Nasehat Terakhir

Saudaraku, takutlah dengan fenomena alami ini. Sikap yang tepat ketika fenomena gerhana ini adalah takut, khawatir akan terjadi hari kiamat. Bukan kebiasaan orang seperti kebiasaan orang sekarang ini yang hanya ingin menyaksikan peristiwa gerhana dengan membuat album kenangan fenomena tersebut, tanpa mau mengindahkan tuntunan dan ajakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika itu. Siapa tahu peristiwa ini adalah tanda datangnya bencana atau adzab, atau tanda semakin dekatnya hari kiamat.

Lihatlah yang dilakukan oleh Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ ».

Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah.” (HR. Muslim no. 912)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai maksud kenapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam takut, khawatir terjadi hari kiamat. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan beberapa alasan, di antaranya:

Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat. (Lihat Syarh Muslim, 3/322)

Hendaknya seorang mukmin merasa takut kepada Allah, khawatir akan tertimpa adzab-Nya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja sangat takut ketika itu, padahal kita semua tahu bersama bahwa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba yang paling dicintai Allah. Lalu mengapa kita hanya melewati fenomena semacam ini dengan perasaan biasa saja, mungkin hanya diisi dengan perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan mungkin diisi dengan berbuat maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

Demikian penjelasan yang ringkas ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Semoga kaum muslimin yang lain juga dapat mengetahui hal ini.

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dapat beramal sholih dan semoga kita selalu diberkahi rizki yang thoyib.

Wallahu a’lam.

 

ref: http://www.scribd.com/doc/9987281/Tatacara-Shalat-Gerhana

       http://rumaysho.wordpress.com/2009/01/24/tata-cara-shalat-gerhana/

Donasi Jihad Syar’i di Yaman

1. Himbauan Syaikh Robi’ bin Hadi al Madkholi hafizhahullah

Sumber:http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124187%20)

—–Terjemahan—–

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalawat serta salam kepada Rasululah, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Telah sampai kepada kami berita pengepungan Syiah terhadap Dammaj. Demi Allah ini adalah permusuhan kepada Ahlussunnah.

Kami menghimbau kepada segenap kaum muslimin untuk mendoakan keselamatan atas saudara-saudara kita di Dammaj.

Berikut juga kami nukilkan fatwa Asy Syaikh Rabi’ bin Umair Hadi al-Madkhali sehubungan boikot Syiah terhadap Dammaj

Kepada seluruh Ahlus Sunnah untuk membantu saudara kita di Dammaj

Telah sampai kepada kami berita sedih apa yang dilakukan rofidhoh, musuh-musuh Islam dan musuh-musuh para sahabat (radiyallahu ‘anhum) seperti memboikot dan memperlakukan saudara kami salafi di Dammaj dan sunni salafi di Markiz tersebut untuk memboikot dan permusuhan terhadap Islam dan pemeluknya (kaum muslimin)

Kami mengharapkan saudara-saudara kami di Dammaj untuk tetap berpegang teguh dengan sunnah dan memiliki kesabaran dan mencari bantuan dari sisi Allah dalam melawan pemberontakan ini dan permusuhan dari kaum rafidhoh

Kepada saudara-saudara kami Ahlussunnah untuk berdiri melawan pelanggaran (kelaliman,ed) ini dan untuk bersatu dalam membersihkan kotoran dari rafidhoh di Yaman dan lainnya -jika mereka mampu melakukannya-

Alloh Subhanahu wa Ta’ala Berkata:

“… Sesungguhnya Allah Maha Benar-Benar Kuat lagi Maha Perkasa” (Al-Hajj: 40)

Dia Alloh Subhanahu wa ta’ala juga mengatakan: “ Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir , atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa. (Ali Imran126-127)

Memang konflik antara Ahlu Sunnah dan rofidhoh sebagaimana konflik Islam dan orang kufur (kafir) sehingga Ahlus Sunnah dimana pun mereka berada di Yaman dan lainnya, maka bangkit untuk membantu saudara-saudara mereka dengan jiwa dan harta untuk mematahkan punggung rafidhah dan semua musuh Islam di mana pun mereka berada.

Sesungguhnya Robb-ku Maha Mendengar Do’a.

Ditulis oleh Rabi’ bin Umair Hadi al-Madkhali

4 Dzulhijjah 1432H

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124187 )

2. Himbauan Syaikh ‘Ubaid Al-Jaabiri hafizhahullah

Kali ini giliran Syaikh ‘Ubaid Al-Jaabiri hafizhahullah menyampaikan nasehat serta motivasi kepada Ahlussunnah di Dammaj dan Yaman pada umumnya, terkait blokade Rawafidh.

Nasehat yang beliau sampaikan di sini dalam rangka menegaskan seruan yang disampaikan oleh Syaikh Rabii’ bin Haadi Al-Madkhali hafidzhahullah. Namun beliau memberikan sedikit tambahan tentang keadaan sekte Rafidhah dan sejarah hidup mereka yang kelam. Demikian pula kejelekan perangai serta tipu daya mereka terhadap umat Islam. Berikut transkrip dan terjemahannya [1]:

[01:41] Merupakan perkara yang sangat jelas dari kaum Rafidhah, bahwa mereka tidak akan pernah ridha (senang) terhadap sesuatupun selain dengan menghalalkan darah Ahlussunnah untuk ditumpahkan, menghalalkan harta mereka untuk dirampas dan menghalalkan kehormatan mereka untuk dijatuhkan. Meskipun seandainya para pemimpin dari negeri-negeri kaum muslimin turun dari kekuasaannya serta menyerahkannya kepada Rafidhah, maka sungguh mereka tidak akan pernah puas. Karena yang demikian itu tidak akan membuat mereka senang……..[02:11]

[04:32] Maka permusuhan mereka bukanlah baru muncul sekarang ini, hari ini, tahun ini atau bahkan generasi kita ini. Akan tetapi permusuhan mereka sudah berakar semenjak keberadaan Ibnu Saba’ [2], seorang Yahudi dari negeri Yaman yang pura-pura masuk Islam untuk membuat makar terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Percayalah kalian bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa, dan Allah bersama orang-orang yang menolong agama-Nya serta berjihad untuk meninggikan kalimat-Nya. Allah ta’ala berfirman, “Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul. (Yaitu) mereka itu pasti akan mendapatkan pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.” Allah ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari bangkitnya saksi-saksi (hari kiamat).” [05:48]

——————————-

Footnote:

1. File audio dapat di unduh di http://alyamaany.com…oad.php?id=1450

2. Abdullah bin Saba’ Al-Yahuudi Al-Yamani adalah seorang provokator yang menebarkan isu di kalangan muslimin tentang kejelekan amirul mu’minin ‘Utsmaan bin ‘Affaan hingga berujung pada pembunuhan. Dialah yang mencetuskan bid’ah demonstrasi pertama kali di kalangan kaum muslimin untuk menggulingkan ‘Utsmaan. Abdullah bin Saba’ juga memiliki keyakinan-keyakinan ekstrim terhadap ‘Ali bin Abi Thaalib, bahkan sampai menganggapnya sebagai Tuhan [lihat Taarikh Ad-Dimasyqi]. Kendati demikian tokoh ini diklaim fiktif oleh sebagian Syi’ah masa kini, padahal kenyataan sejarah-lah yang seharusnya dijadikan acuan. [-pent]

3. Himbauan Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi hafizhahullah

Masih terkait blokade di Dammaj, berikut ini adalah rekaman audio kajian Syaikh Muhammad bin Haadi Al-Madkhali hafidzhahullah yang bertempat di masjid Bani Salamah kota Madinah, dan kami unduh dari http://www.reeem.info/upload/download.php?id=965.

Alhamdulillah dalam sesi tanya jawab ini beliau menasehatkan sebagaimana nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Rabii’ bin Haadi Al-Madkhali hafidzhahullah di Makkah. Hanya saja ada beberapa point yang perlu kita camkan bersama dalam nasehat beliau di menit [04:01] dan seterusnya. Berhubung hal tersebut sangat penting untuk dimengerti segenap pihak, khususnya berkaitan dengan adab dan sikap para ulama ahli hadits dalam berselisih pendapat. Berikut transkrip dan terjemahannya:

“…Dan menjadi kewajiban atas saudara-saudara kita Ahlussunnah untuk menolong mereka yang berada di Dammaj. Maka kita katakan, inilah ketentuan agama, meskipun kita telah membantah Yahya Al-Hajuuri (ulama Ahli Hadits dari negeri Yaman, -pent) atau kita telah membantah si fulan, maka bantahan dan menjelaskan al-haq itu adalah satu bab, sedangkan menolong sunnah dan Ahlussunnah adalah bab yang lain.

Dengan demikian wajib atas Ahlussunnah yang dekat dengan Dammaj, yakni yang paling dekat dan seterusnya, wajib untuk menolong saudara-saudara mereka di sana. Sehingga mereka berbaris dalam satu front bersama Ahlussunnah di Dammaj guna menolong mereka dan berperang bersama mereka dalam menghadapi orang-orang yang zalim dan orang-orang yang melampaui batas. Maka menjadi kewajiban atas Ahlussunnah untuk berjihad bersama mereka dalam menghadapi para pemberontak Rafidhah. Yakni yang paling dekat dengan Dammaj dan seterusnya.

Kendati demikian, jangan kemudian timbul prasangka bahwa walaupun kami telah membantah Yahya Al-Hajuuri di Dammaj, lantas kami akan mengorbankan sunnah? -ma’aadzallaah- kami berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

Mereka Ahlussunnah adalah saudara-saudara kita, karib kerabat kita dan junjungan kita sepanjang zaman dimanapun mereka berada. Kita marah kepada mereka semata-mata karena ingin membela mereka, kita bahagia karena kegembiraan mereka, dan kita bersedih karena kesedihan mereka pula. Maka wajib atas Ahlussunnah di Yaman pada umumnya untuk menolong mereka dan bangkit bersama mereka guna menghadapi orang-orang Rafidhah Al-Huutsiyyin yang tengah memberontak, dan bahkan mereka menyangka mampu menghinakan Ahlussunnah….” [05:19]

 

3. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad

Ustadz Abu Hudzaifah hafidzahullah berkata :

Berikut ini adalah teks pertanyaan akhuna Abdurrahman Al Umaysan (thalib asal Yaman yg studi di Jami’ah Islamiyyah) thd Syaikhuna Al Abbad:

قد سألت شيخنا العلامة عبدالمحسن العباد البدر – حفظه الله – ظهر يوم الثلاثاء الموافق 4 من شهر الله المحرم هـ1433 في مسجده عن الجهاد في دماج وماذا تنصحوننا أن نفعل وكذلك أهل اليمن – إذ إن شيخنا متتبع لأخبارهم منذ فرض عليهم الحصار

Saya bertanya kepada syaikhuna Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al ‘Abbad -hafizhahullah- pada hari Selasa siang, tgl 4/1/1433 H di mesjid beliau; tentang jihad di Dammaj dan apa yang antum nasehatkan supaya kami dan warga Yaman lakukan, mengingat engkau -wahai Syaikh- selalu mengikuti berita mereka sejak pengepungan dimulai?

فأجاب شيخنا متألما: لا شك أن ما يحصل في دماج من قتال هو جهاد في سبيل الله فمن استطاع من أهل اليمن أن يقاتلهم فليفعل لكن لابد من استئذان الأبوين وأنا أقول مناوشة الرافضة من جوانب متعددة هو الأولى، لأن الوصول لدماج والقتال معهم صعب لأنهم محاصرون من كل جانب

Maka Syaikh menjawab dengan nada sedih: Tidak diragukan bahwa perang yang terjadi di Dammaj adalah JIHAD FI SABILILLAH. Siapa pun dari warga Yaman yang bisa memerangi mereka, hendaklah turut serta, namun harus minta izin terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya. Menurutku, menyerang kaum rafidhah dari banyak sisi lebih diutamakan, mengingat sulitnya untuk masuk ke Dammaj dan sulitnya berperang bersama mereka  (ikhwan kita -pent), karena mereka dikepung dari seluruh penjuru.

ختم الشيخ بقوله الله يدمر الرافضة الله يدمرهم

Syaikh lantas menutup jawabannya dengan mengatakan: Semoga Allah menghancurkan kaum Rafidhah… semoga Allah menghancurkan mereka !

—————————————–

Keterangan:

Jawaban Syaikh di atas menunjukkan bahwa jihad bagi selain warga Dammaj sifatnya fardhu kifayah dan statusnya sebagai jihad thalabi (offensif), karenanya beliau mensyaratkan harus izin orang tua terlebih dahulu, dan mensyaratkan bagi ‘yg mampu melakukannya’. Adapun izin pemerintah/waliyyul amri maka tidak perlu dipertanyakan sebab pemerintah Yaman sendiri telah berulang kali terlibat perang dengan kaum Syi’ah Hutsiyiin selama tujuh tahun belakangan… sehingga izin mereka secara implisit (dhimni) telah terwujud sejak dahulu.

4. Fatwa Syaikh Sholih Al-Fauzan

PenanyaApa nasehat antum bagi ikhwan kita Ahlussunnah di Yaman yang diperangi oleh Hutsiyin?

Jawab Syaikh: Hendaknya mereka bersandar kepada Allah -‘azza wa jalla-, banyak berdoa, serta membela diri, keluarga, dan harta mereka semampunya.

Na’am… apa yang menimpa orang-orang Yaman ini tidak lain disebabkan karena mereka saling berpecah dan berpangku tangan. Andai mereka berkumpul dalam satu bendera, niscaya tidak ada satu pihak pun yang bisa mengganggu mereka. Namun saat mereka berpecah, barulah musuh-musuh mereka terdorong menguasai mereka. Setiap pihak yang punya ambisi akan mewujudkan ambisinya terhadap mereka.

Kuwasiatkan kepada mereka agar menempuh sebab-sebab, yang diantaranya ialah bersatu dan tidak berpecah. (Allah berfirman):

ولا تفرقوا فتفشلوا وتذهب ريحكم واصبروا… ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا

Janganlah kalian berpecah sehingga kalian kalah dan kehilangan kekuatan, namun bersabarlah… (dlm ayat lainnya): Janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah dan berselisih itu…

Jadi, mereka wajib bersatu. Adanya hizbiyyah dan perpecahan ini justru merugikan kaum muslimin. Mereka wajib bersatu menjadi satu jama’ah yang berlandaskan Al Kitab dan Sunnah, dan bersama-sama menghadapi musuh mereka. Inilah sifat kaum muslimin… na’am.

fatwa ini direkam saat beliau mensyarah kitab Mukhtashar Zaadul Ma’aad tanggal 2 Muharram lalu.

Sumber: http://aloloom.net/vb/showthread.php?t=10478

ref: http://darus-sunnah.blogspot.comhttp://basweidan.wordpress.com

KEPADA KAUM MUSLIMIN YANG HENDAK MENYALURKAN DONASI UNTUK JIHAD DI YAMAN, DAPAT DIKIRIM KE:

BNI Syari’ah, No. Rekening 0105338917  an. Syarif Mustaqim QQ LBIA (konfirmasi di 0856 4326 6668)

BRI no. Rekening 3046 – 01 – 034338 an. Moch. Haekal Awla (konfirmasi di 0812 562 99020)

 

Bagi yang telah menyalurkan donasi mohon mengirimkan sms konfirmasi dengan format:

peduliyaman [spasi] nama [spasi] alamat [spasi] jumlah donasi [spasi] tanggal donasi

Jeda Radio Rodja

Kumpulan jeda radio rodja:

1. Bid’ah
2. Cinta Dunia
3. Hijab / Untukmu Wahai Ukhtiy Muslimah
4. Hikmah di Balik Musibah
5. Ibumu Menanti
6. Kematian
7. Sholat
8. Tidak Ada Lagi Nabi
9. Ustadz Abdul Hakim
10. Ustadz Armen
11. Ustadz Yazid
12. Ustadz Armen2
13. Sholat Tahajjud

Sumber : http://www.radiorodja.com/

Safari Dakwah Ulama Yaman

Awan Tag