Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Posts tagged ‘iman’

Kembali pada Al-Qur’an dan Ahlulbait 2.0

Di bagian pertama telah kami paparkan Hadits ats-tsaqalain (al-Qur`an dan ahlulbait)  melalui beberapa jalur periwayatan sekaligus derajatnya dan cara memahami maknanya secara benar.  Kita sebutkan bahwa yang shahih adalah hadits Shahih Muslim dari Hadits Zaid bin Arqam, yang isinya adalah: “Aku akan meninggalkan di tengah kalian Tsaqalain (dua hal yang berat), yaitu: Pertama, Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah kitabullah dan berpegang teguhlah kalian kepadanya.” Beliau menghimbau dan mendorong untuk mengikuti Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan: “(Kedua), dan ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlulbaitku” – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Kini kita terangkan bahwa hadits tsaqalini yang dalam arti wajib berpegang teguh dengan ahlulbait  tidak bisa menjadi hujjah bagi syi’ah karena faktor-faktor berikut[1]:

Pertama:  sanad hadits

Hadits yang memerintahkan untuk berpegang teguh dengan ahlulbait diriwayatkan dengan sanad yang cacat. Di dalamnya ada Athiyyah al-Aufi, dia itu dhaif dan seorang syi’ah, kritikan terhadapnya bersifat rinci, oleh karena itu yang menghukumi cacat lebih didahulukan daripada yang menghukumi tsiqah. Oleh karena itu usaha syi’ah rafidhah untuk menjadikan Athiyyah al-Aufi sebagai rawi tsiqah adalah salah dan gagal.

Kedua: penilaian dhaif oleh DR al-Salus terhadap hadits tsaqalain ini lebih berbobot daripada penilaian shahih oleh Syekh al-Albani.

Hal itu disebabkan karena Dr. Salus mengerahkan jerih payahnya untuk mengkaji hadits ini secara khusus, sementara Syekh al-Albani sibuk dengan ribuan hadits, maka tidak mungkin sedalam  kajian  Dr. Salus.  Di sisi lain, bisa jadi tentang hadits ini Syekh al-Albani belum merampungkan kajiannya, sebagaiamana diketahui beliau banyak memiliki revisi soal derajat hadits –dan ini tidak mengurangi sedikit pun kedudukan Syakh al-Albani– di samping itu Dr. Salus setelah adanya tashhih Syekh albani tetap mendhaifkan hadits tersebut.

Ketiga: kesimpangsiuran redaksi hadits

Hadits tsaqalaini ini datang dengan variasi redaksi yang banyak: sunnati, ahli baiti, ‘itrati, dan ‘itrah ahlibaiti. Sebagaimana ada kerancuan lain yaitu kadang berwasiat agar berbuat baik kepada ahlulbait, dan kadang memerintah berpegang teguh dengan ahlulbait, atau dengan ‘itrah, dan yang shahih memerintah berpegang teguh dengan al-Qur’an, sementara makna ahlulbait pun masuk di dalamnya istri Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam.

Keempat: isinya menyalahi al-Qur`an dan as-Sunnah.

Menyalahi firman Allah, sebab kita diperintah mengikuti (وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ) yaitu dalam firman Allah (QS. Al-Taubah: 100):

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Maka apakah kita mengikuti as-sabiqunal awwalun atau berpegang teguh dengan ‘itrah? Ini tentu menyalahi kitabullah.

Juga menyalahi sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam sebab dalah Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam Muslim Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam telah menunjuk atau mengisyaratkan Abu Bakar sebagai Khalifahnya, maka kita mengikuti khalifatu Rasulillah ataukah itrah? Lalu Abu Bakar adalah khalifah syar’i  yang menunjukkan Umar sebagai khalifah penggantinya, maka kita mentaati Umar bin Khaththab sebagai khalifah syar’i ataukah kita berpegang teguh dengan itrah?  Begitu seterusnya hingga sampai pada Muawiyah.

Muawiyah kita saksikan dibaiat oleh kaum muslimin dan mereka merelakannya sebagai khalifah mereka. Maka apakah kita berpegang dengan itrah dan membaiat Muawiyah sebagaimana dilakukan oleh Hasan bin Ali ataukah kita mentaati rafidhah?!

Sebagaimana berpegang teguh dengan itrah menyalahi apa yang paling shahih dari riwayat-riwayatnya, yaitu riwayat Muslim dari Zaid ibn Arqam di atas.

Kelima: penshahihan hadits

Dengan demikian maka menilai hadits ini shahih tidak bisa dibenarkan sebab dalam sanadnya ada Athiyyah al-Aufi yang cacat, isinya menyalahi al-Quran dan Sunnah, dan redaksinyamuththarib (simpang siur). Seandainya shahih pun maka menjadi hadits syadz (ganjil) sebab menyalahi hadits-hadits yang lain. Ini dari satu sisi, dari sisi lain, hadits yang dishahihkan Syekh al-Albani tidak ada perintah berpegang teguh dengan ‘itrah bahkan menyebutkan kalau mereka berpegang teguh dengan al-Quran maka mereka tidak akan sesat.

Inilah hadits yang dishahihkan Syekh al-Bani:

“إني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا، كتاب الله وعترتي أهل بيتي”

“Aku tinggalkan di tengah kalian apa yang kalau kalian pegangi maka kalian tidak akan sesat; kitabullah dan ‘itrahku ahlibaitku.”

Kata-kata (أخذتم به) adalah untuk sesuatu yang jumlahnya satu, yaitu al-Qur`an saja, bukan untuk  al-Qur`an dan ‘Itrah. Seandainya untuk keduanya (atau dua hal yang berbeda) niscaya akan bersabda “بهما”. Yang menguatkan makna ini adalah riwayat yang paling shahih yaitu Zaid bin Arqam riwayat Muslim yang berisi perintah berpegang teguh dengan al-Qur`an dan berwasiat untuk berlaku baik kepada ahlulbait.

Selain itu, Syaikh Al-Albani tidak menshahihkan hadits ‘Itrah sebagai hadits shahih lidzatihitetapi lighairi yang asalnya ada pada shahih Muslim. Maka barangsiapa mengambil shahihlighairihi dan meninggalkan shahih lidzatihi menunjukkan bahwa dia mengikuti nafsunya bukan mengikuti sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam.

Ketujuh: mengamalkan hadits

Ahlussunnah waljamaah mensyaratkan syarat-syarat tertentu untuk dapat mengamalkan hadits. Ada dua syarat dari syarat-syarat itu yang menggugurkan pengamalan hadits ‘itrah, yaitu:

Syarat pertama: hadits itu tidak syadz; tidak menyalahi hadits yang lebih shahih dari padanya. Di sini hadits ‘itrah menyalahi hadits yang lebih shahih. Dengan demikian tidak boleh mengamalkan hadits ‘Itrah, ini kalau asalnya shahih, lalu bagaimana kalau dari asalnya sudah dhaif?

Syarat kedua: pemahaman hadits tersebut sesuai dengan pemahaman salaf shalih.

Sudah maklum bahwa salaf shalih tidak memahami hadits ‘Itrah sebagaimana pemahaman rafidhah; syi’ah imamiyyah itsnay asyriyyah. Tentang makna ‘Itrah pun maknanya berbeda dengan yang dimaksud oleh rafidhah. ‘Itrah adalah ‘Asyirah Rasulillah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam termasuk di dalamnya Abu Bakar, Umar, Usman dan Abu Ubaidah. Paling sempit ‘Itrah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam itu adalah Bani Al-Abbas bin Abdil Muththalib dan Bani Abdullah bin al-Abbas, Bani Aqil bin Abi Thalib, Bani Jakfar bin Abi Thalib. Mereka semua adalah ‘Itrah, bukan seperti klaim Rafidhah bahwa ‘Itrah terbatas pada 12 imam. Demikianlah klaim Rafidhah tanpa dalil.

Dengan demikian batallah klaim-klaim syi’ah dan batallah usaha matia-matian syi’ah dalam menshahihkan hadits ini dan dalam menjadikannya sebagai pegangan, karena sebab-sebab yang sudah kami kemukakan di atas.

Peringatan:

Syaikh Dr. Majid Khalifah[2] mengingatkan kepada kita bahwa:

  1. Syiah, ketika mereka berhujjah dengan hadits ahlussunnah, mereka tidak membedakan antara riwayat-riwayat kitab, tetapi mereka melakukan kekcauan yang ajaib terhadap hadits-hadits itu.
  2. Syi’ah secara umum tidak memiliki sandaran dalam Jarh dan Ta’dil dan Ilmu Rijal. Dan kitab mereka yang paling luas pembahasannya dalam masalah ini adalah Mu’jam al-Rijalmilik al-Khu`i yang telah mati beberapa tahun lalu.
  3. Melalui pengalaman beliau dalam mendebat Syi’ah, kita wajib menggunakan hal-hal yang bersifat logis, karena mereka tidak faham sama sekali tentang al-Qur`an, Sunnah dan ucapan para imam.
  4. Mereka memiliki titik-titik kelemahan yang sangat banyak dalam madzhab mereka, oleh karena itu ada baiknya kita mengetahui riwayat-riwayat ini dan menghadirkannya saat mendebatnya.

Intinya argumentasi mereka dengan hadits ini justru menjadi bumerang bagi mereka, menjadi senjata makan tuan sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Alusi.

Nantikan edisi berikutnya tentang syarah dan arahan Imam Mahmud Syukri Al-Alusi  (1342 H) terhadap hadits Tsaqalain ini yang beliau tulis dalam kitabnya “Sa’adah al-Darain fi Syarh Hadits Tsaqalain”.[*]

ref: binamasyarakat.com
 


[2] http://www.dr-majeed.com/subjects/books.html

Iklan

PENGERTIAN IMAN MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Iman Bisa Bertambah atau Berkurang.

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Pertanyaan.
Bagaimana pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah ? Apakah Iman itu bisa bertambah atau berkurang ?

Jawab.
Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

1. Ikrar dengan hati.
2. Pengucapan dengan lisan.
3. Pengamalan dengan anggota badan

Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab : ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. (Al-Baqarah : 260)

Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat didalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.

وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. (Al-Mudatstsir : 31)

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At-Taubah : 124-125)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya:

· Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya daripada yang lain.

· Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman.

وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (Adz-Dzariyat : 20-21).

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

· Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu:

· Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

· Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

· Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. (Al-Hadits)

· Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimanannya dari sisi yang satu ini.

———————

Cuplikan dari buku Soal Jawab Masalah Iman dan Tauhid terbitan At-Tibyan Solo, yang isinya merupakan fatwa-fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

ref: http://aliph.wordpress.com

Awan Tag