Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Posts tagged ‘Inshof’

Kaidah Toleransi dalam Timbangan

Lafazh-lafazh yang mujmal (global) adalah biang kesesatan manusia. Lafazh-lafazh mujmal ini mengandung berbagai makna, tercampur didalamnya kebenaran dan kebathilan. Dengan cara inilah para penyeru kesesatan menghantam kebenaran dan menyebarluaskan kesesatannya. Dengan cara inilah ahli bid’ah menyebarluaskan kebid’ahannya di kalangan manusia.

Di antara lafazh-lafazh mujmal yang sangat berbahaya adalah sebuah kaidah yang dipraktikkan dan di propagandakan oleh jama’ah Ikhwanul Muslimin, kaidah ini berbunyi “Kita bersatu pada apa yang kita sepakati dan kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan”. Begitu semangat mereka menerapkan kaidah ini sehingga mereka benarkan setiap orang yang menyelisihi jalan yang lurus, mereka memperluas cakupan kaidah ini hingga meliputi semua kelompok sesat dan semua ahli bid’ah. Berapa banyak bid’ah-bid’ah berbahaya yang tersebar dikalangan kaum muslimin mereka anggap biasa dengan alas an toleransi. Dengan berbekal kaidah inilah mereka masukan aneka ragam pemikiran kedalam barisan mereka, sebagaimana dikatakan oleh pendiri jama’ah ini ketika menyifati jama’ahnya : “Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyah….thariqiyah sunniyah…..hakikat shufiyah….!!!”

Mengingat banyaknya efek-efek negatif dari kaidah ini dan banyaknya orang-orang yang menyucikan (menganggap suci) kaidah ini maka kami merasa perlu mengangkat timbangan syar’i terhadap kaidah ini dan penjelasan-penjelasan para ulama tentangnya.

Asal-Usul Kaidah Ini

Yang pertama kali mencanangkan kaidah ini adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Beliau menjuluki kaidah ini dengan nama “kaidah emas”.

Kemudian Syaikh Muhammad Rasyid Ridha melihat bahwa kaidah ini adalah kaidah yang merusak, maka beliau berlepas diri darinya…. tetapi Hasan al-Banna’ mengambilnya dan sering mendengung-dengungkannya, dan jadilah kaidah ini kaidah suci bagi para pengikutnya, mereka jadikan senjata untuk menolak setiap seruan untuk bersatu di dalam kebenaran, dan mereka jadikan senjata untuk membela kesesatan ahli bid’ah.

Kebenaran di Sisi Allah adalah Satu Sedangkan yang Lain adalah Salah

Allah berfirman :

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan”.

Al-Imam al-Qurthubi berkata : “Ayat ini memastikan bahwa tidak ada sesudah kebenaran dan kesesatan kedudukan ketiga dalam masalah ini; yaitu masalah tauhidullah, demikian juga didalam perkara-perkara yang serupa, yaitu dalam masalah-masalah pokok, maka kebenaran yang ada padanya adalah pada satu sisi… Sesungguhnya salafush shalih berdalil dengan keumuman ayat ini atas semua kebatilan”.

Allah berfirman :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”.

Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah dating keterangan yang jelas kepada mereka”.

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : “Ayat-ayat yang melarang perselisihan dalam agama yang mengandung celaan pada perselisihan tersebut, semuanya merupakan persaksian yang jelas bahwa kebenaran di sisi Allah ada satu, adapun yang selainnya maka adalah merupakan kesalahan, seandainya semua pendapat itu benar, maka Allah dan Rasul-Nya tidak mungkin melarang dan mencela hal yang benar”.

Rasulullah bersabda : “Jika seorang hakim menghukumi dengan ijtihajnya kemudian dia benar, maka dia mendapat dua pahala, jika dia menghukumi kemudian dia salah, maka dia mendapat satu pahala”.

Hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa kebenaran berada di satu sisi, karena pendapat yang menyelisihi adalah salah.

Rasulullah telah mengabarkan bahwa umatnya akan berpecah belah menjadi 73 kelompok, dan bahwasanya yang selamat hanya satu. Al-Imam asy-Syathibi berkata : “Sabda Rasulullah ‘Kecuali satu (yang selamat)’ merupakan nash bahwa kebenaran adalah satu, jika saja kebenaran itu banyak maka Rasulullah tidak mungkin mengatakan ‘Kecuali satu’.

Kebenaran Aqidah Sebab untuk Mendapatkan Kebenaran

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata (majmu’ Fatawa 14/33):

Siapa saja yang mau menelaah keadaan-keadaan dunia, maka akan menjumpai bahwa keadaan kaum muslimin lebih tajam dan lebih benar akalnya, dan bahwasanya kaum muslimin mendapatkan hakikat-hakikat ilmu dan amal dalam waktu yang singkat dalam kadar yang berlipat ganda dibandingkan dengan umat-umat yang lainnya dari berbagai kurun dan generasi, demikian juga ahli sunnah dan hadits. Engkau dapati mereka mendapatkan hal itu semua, hal ini disebabkan karena keyakinan yang benar dan kokoh memperkuat jangkauan akal dan membenarkannya”. Allah berfirman :

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka”.

Pemahaman Salaf Penyelamat dari Perselisihan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

Sebagaimana tidak ada generasi-generasi yang lebih sempurna dari generasi sahabat, demikian juga tidak ada dalam kelompok-kelompok yang lebih sempurna dari para pengikut sahabat. Siapa saja yang ittiba’ kepada hadits, sunnah, dan atsar-atsar sahabat, maka dia lebih sempurna. Maka para pengikut sahabat lebih pantas mendapatkan perseteruan, petunjuk dan i’tisham kepada tali Allah, dan mereka sangat jauh dari perpecahan, perselisihan, dan fitnah. Dan setiap yang jauh dari hadits, sunnah, dan atsar-atsar sahabat, maka dia lebih jauh dari rahmat dan lebih masuk ke dalam fitnah. Tidak ada kesesatan dan kebatilan dalam kalangan manusia yang lebih banyak dari yang ada pada kelompok rafidhah”.

 

Efek-efek Negatif dari Pengalaman Kaidah Ini

1.         Membuka pintu yang lebar untuk semua kejelekan

Jika kaidah ini kita praktikkan, maka kita harus bersikap toleran kepada setiap penyelewengan, kita benarkan setiap bid’ah dan kesesatan, toleransi kepada peminum khamar, toleran kepada yang tidak puasa Ramadhan, toleran kepada orang yang nikah mut’ah, toleran kepada orang-orang yang berbuat kesyirikan, toleran kepada orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah, toleran kepada semua pemilik pemikiran-pemikiran sesat, dan kerjasama dengan mereka dalam hal yang mereka sepakati dari keberadaan wujud Allah, kerjasama dengan mereka dalam melawan pemikiran komunisme dan materialisme.

 

2.         Menambah perpecahan dan perselisihan

Jika kaidah ini kita praktikkan maka akan menambah perpecahan dalam tubuh umat dan merupakan sebab tersebarnya pemikiran-pemikiran sesat dan agama-agama yang sesat. Kaidah ini tidak akan mengikis unsur perpecahan, bahkan menambahnya; selama semuanya harus disikapi dengan toleransi. Syari’at Islam datang untuk mengikis habis unsur perpecahan di antara manusia, agar manusia menjadi umat yang satu.

Al-Imam al-Khaththabi berkata : “Adapun perpecahan dalam agama-agama dan pemikiran-pemikiran, maka hal ini tidak boleh secara logika, dan diharamkan dalam perkara-perkara pokok ; karena akan membawa kepada kesesatan, dan menjadi sebab penolakan dan ketidakacuhan. Seandainya manusia dibiarkan berpecah belah, maka sungguh akan berpecah belah pula pemikiran-pemikiran akan muncul banyak agama, sehingga tidak ada faedah sama sekali dari diutusnya Rasul, inilah perpecahan yang dicela Allah dalam Kitab-Nya”.

 

3.         Membuka jalan-jalan ditutup oleh syari’at

Allah telah menyebut Shirathal Mustaqim (jalan-Nya yang lurus), menjelaskan dengan penjelasan yang sempurna, dan membimbing manusia kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Demikian juga Rasulullah telah menyampaikan penjelasan dan hujjah dengan sempurna. Maka tidak ada di sana kecuali jalan Allah yang lurus atau jalan-jalan lain yang bengkok. Allah berfirman :

“Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya”.

Maka toleransi kepada orang-orang yang menyeleweng adalah sikap setuju dan ridha kepada jalan-jalan lain yang bengkok ini, dan menyepelekan shirathal Mustaqim (jalan Allah yang lurus).

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata : “Sesungguhnya jalan yang mengantarkan kepada Allah adalah satu, yaitu yang dijelaskan oleh para rasul-Nya, dan dijelaskan oleh kitab-kitab-Nya. Tidak ada seorangpun yang sampai kepada Allah melainkan melalui jalan ini. Seandainya manusia dating dari semua jalan, dan minta dibukakan semua pintu, maka jalan-jalan tertutup atas mereka, kecuali dari jalan yang satu ini; maka jalan inilah yang bersambung dengan Allah dan menghantarkan kepada Allah”.

 

4.         Menghilangkan identitas seorang muslim dan identitas pengikut sunnah

Pengamalan kaidah ini akan menghilangkan pokok yang agung dari pokok-pokok Ahli Sunnah, yaitu al-Wala’ wal Bara’, menghilangkan Bara’ah (sikap berlepas diri) dari bid’ah dan ahlinya dan sekaligus menghilangkan identitas seorang muslim yang mengikuti sunnah; selama semua orang disikapi dengan toleransi. Jadilah manusia di dalam kekaburan, tidak bisa memisahkan antara sunnah dan bid’ah, antara haq dan batil, antara petunjuk dan kesesatan, dan antara kebenaran dan kesalahan.

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata : “Penghilang pemisah antara wala’ wal bara’ antara muslim dan kafir, dan antara ahli sunnah dan ahli bid’ah… pemisah ini dihancurkan dengan slogan-slogan yang menyesatkan seperti toleransi, melunakkan hati, kemanuisaan, dan yang semisalnya dari slogan-slogan menarik, yang hakikatnya adalah rekayasa-rekayasa penghancuran, dan menghilangkan Islam”.

 

5.         Tidak akan terjadi persatuan

Persatuan hanya akan terjadi dengan mengikuti Kitab dan Sunnah, bukan dengan membiarkan manusia berjalan sesuai dengan kehendaknya dengan alas an toleransi. Al-Imam Abul Qasim al-Ashbahani berkata : “Adalah sebab yang menyatukan ahlul hadits, bahwasanya mereka mengambil agama dari Kitab dan Sunnah…. semua itu membawa kepada kesepakatan dan persatuan. Adapun ahli bid’ah mengambil agama dari perkataan-perkataan dan pemikiran-pemikiran manusia, sehingga mereka berselisih dan bercerai-berai”.

Fatwa Para Ulama Tentang Kaidah Toleransi

1.         Fatwa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Beliau berkata :

“Ya, kita wajib bekerja sama pada apa yang kita sepakati dalam hal membela kebenaran, mendakwahkannya, dan memperingatkan umat dari apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Adapun jika sebagian dari kita toleransi dengan sebagian yang lainnya dari apa yang kita perselisihkan, maka ini tidaklah mutlak, bahkan ini butuh kepada perincian. Jika hal itu merupakan masalah-masalah salah ijtihad yang tersembunyi dalilnya, maka yang wajib tidak boleh saling mengingkari pada masalah-masalah tersebut. Adapun permasalahan-permasalahan yang menyelisihi nash Kitab dan Sunnah, maka yang wajib adalah mengingkari siapa saja yang menyelisihi nash dengan hikmah, mau’izhah hasanah, dan debat dengan cara yang baik, sebagai pengalaman firman Allah :

“Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

Dan firman Allah :

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar”.

Dan firman Allah :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

Dan sabda Rasulullah : ‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman’. Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam masalah ini banyak sekali”

2.         Fatwa Fadhilatusy Syaikh al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

“Perkataan mereka ‘Kita bersatu pada apa yang kita sepakati’ adalah haq, adapun perkataan mereka ‘Kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan’, maka ini perlu rincian. Dalam hal-hal yang dibolehkan ijtihad padanya, maka kita saling toleransi, tetapi tidak boleh berselisih hati-hati kita dengan sebab perselisihan ini. Adapun jika permasalahan itu tidak dibolehkan ijtihad padanya, maka kita tidak boleh toleransi pada siapa saja yang menyelisihinya, dan wajib atasnya untuk tunduk kepada kebenaran. Maka bagian awal dari ibarat kaidah ini shahih, adapun bagian akhirnya butuh kepada perincian”.

3.         Fatwa Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani

Beliau mengkritik kaidah ini dengan mengatakan :

“para pemakai kaidah ini adalah orang-orang yang pertama kali menyelisihi kaidah ini. Kami tidak syak sama sekali bahwa bagian awal kalimat ini benar, yaitu ‘Kita bekerja sama pada apa yang kita sepakati’, kalimat ini petikan dari firman Allah :

“Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

Adapun bagian akhir kalimat ini yaitu ‘Kita saling toleran pada apa yang kita perselisihkan’, maka harus diberi batasan….kapan hal ini dilakukan? Ketika kita saling menasihati, kita katakana kepada seorang yang berbuat kesalahan : ‘Engkau keliru, dalilnya ini dan itu’, ketika kita melihat dia belum puas, dan dia ikhlas, maka kita tinggalkan dia pada keadaannya dan kita bekerja sama dengannya pada apa yang kita sepakati bersamanya. Adapun jika kita melihat dia keras kepala, sombong, dan berpaling, maka pada saat itu tidak benar ibarat ini, tidak boleh saling toleran pada apa yang kita perselisihkan”.

4.         Fatwa Lajnah Da’imah lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’ No. 18870 Tanggal 11/6/1417H

Pertanyaan : Bertolak dari firman Allah :

“Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

Dikatakan bahwa wajib bekerja sama dengan setiap jama’ah-jama’ah Islam, walaupun berbeda-beda dalam manhaj dan cara dakwah mereka, seperti Jama’ah Tabligh cara dakwahnya berbeda dengan cara dakwah Ikhwanul Muslimin, atau Hizbut Tahrir, atau Jama’ah Jihad, atau Salafiyyin, bagaimana kaidah dalam kerja sama ini? Apakah dibatasi dalam hal partisipasi dalam muktamar-muktamar dan seminar-seminar? Apa yang akan diarahkan dalam dakwah kepada selain kaum muslimin kerena disana banyak kekaburan bagi orang-orang yang baru masuk Islam? Karena sesungguhnya masing-masing jama’ah akan membawa orang baru ini ke markaz-markaz mereka, dan kepada ulama-ulama mereka; sehingga orang-orang baru ini berada dalam kebingungan? Bagimana solusi permasalahan ini?

Jawaban : Yang wajib adalah bekerja sama dengan jama’ah yang berjalan di atas manhaj Kitab dan Sunnah dan apa yang ditempuh oleh Salaful Ummah, di dalam hal berdakwah kepada tauhidullah, mengikhlaskan ibadah semata-mata kepada-Nya, melarang dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan, serta menasihati jama’ah-jama’ah yang menyeleweng dari manhaj yang benar. Jika jama’ah-jama’ah tersebut kembali pada kebenaran, maka boleh bekerja sama dengannya. Jika mereka berketetapan hati untuk terus dalam penyelewengan, maka wajib dijatuhi dan berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah adalah dalam segala hal yang mengandung kebaikan dan ketakwaan, dalam hak pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar, ta’lim-ta’lim, ceramah-ceramah, dan segala hal yang bermanfaat kepada Islam dan kaum muslimin.

(Pembahasan ini disarikan dari Kitab Zajrul Mutahawin Bi Dharari fi Qa’idatul Ma’dzirah wa Ta’awun oleh Syaikh Hamd bin Ibrahim al-‘Ustman cetakan pertama tahun 1419H).

 

Penutup

Selayaknya – bahkan wajib – atas para pengikut pencetus kaidah ini, daripada memperluas pengamalan kaidah ini pada kelompok-kelompok sesat – hingga yang paling sesat seperti Rafidhah – agar memperhatikan kaidah cinta karena Allah dan benci karena Allah, loyalitas dan permusuhan semata-mata karena Allah, yang tidak ada tempat sama sekali untuk toleransi kepada kelompok-kelompok sesat dan menyeleweng dari Ahli Sunnah wal Jama’ah…”

Penulis: Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh

ref: Buku Bingkisan Buat para Pencari Kebenaran.

Iklan

Awan Tag