Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Posts tagged ‘kejayaan islam’

Dakwah Salafiyyah Pemecah Belah Ummat

Segala puji bagi Allah al-Wahhab, karena karuniaNya yang banyak kepada dakwah salafiyyah. Dakwah ini semakin berkembang diseluruh pelosok negeri, dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda:

ليبلغن هذا الأمر مبلغ الليل و النهار و لا يترك الله بيت مدر و لا وبر إلا أدخله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل يعز بعز الله في الإسلام و يذل به في الكفر

Artinya : Sungguh agama Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakan dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran” Hadits Riwayat Al-Hakim dalam Mustadrak (4/477)

Bukankah Islam yang dijanjikan dalam hadits ini, dialah Islam yang telah diamalkan oleh salafunassholeh. Karena sungguh kejayaan Islam telah berlalu di tangan mereka, bersatunya seluruh kaum muslimin diseluruh penjuru dunia, ada pada masa mereka, dan sungguh mereka yang telah berkorban jiwa dan raga untuk sampainya Islam keharibaan kita.

Maka sudah merupakan sunnatullah, bahwa dakwah salafiyyah akan senantiasa mendapatkan ancaman, tekanan, fitnah dari musuh-musuh dakwah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan para shahabat telah menerimanya. Hal ini sesuai dengan jawaban Rasulullah tatkala beliau ditanya,

أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، فَيُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

Artinya : Siapakah manusia yang sangat berat ujiannya? Rasulullah menjawab, “para nabi kemudian orang yang semisal mereka dan yang semisal dengan mereka, seorang hamba akan diuji sesuai dengan kadar agama yang dimilikinya” Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Sunannya (4/180)

Dan sudah sering kali kita mendengar bahwasannya dakwah salafiyyah yang diberkahi ini dikatakan sebagai dakwah yang memecah belah ummat. Salafiyyin sukar untuk diajak bekerja sama mewujudkan kejayaan Islam. Adapun kelompok-kelompok lain tak selamat dari pena-pena nasehatnya.

Ketahuilah, para pembaca sekalian. Sungguh Allah telah menamakan kitabNya Al-Qur’an sebagai Al-Furqon (pembeda). Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya: Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (QS. Al-Baqoroh: 185)

Syaikh As-Sa’di berkata, “…yakni Al-Qur’anul Karim, yang berisi petunjuk untuk kebaikan kalian, agama maupun dunia, dan penjelasan tentang kebenaran sejelas-jelas uraian, dan pembeda antara yang benar dan yang salah, petunjuk dan kesesatan, dan golongan yang bahagia maupun golongan yang celaka” (Tafsir As-Sa’di I/86)

Demikianlah pula Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, beliau juga merupakan pembeda antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 7281 ,

جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ جَاءَتْ مَلاَئِكَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ نَائِمٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ فَقَالُوا إِنَّ لِصَاحِبِكُمْ هَذَا مَثَلاً فَاضْرِبُوا لَهُ مَثَلاً فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ فَقَالُوا مَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا وَجَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً وَبَعَثَ دَاعِيًا فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِيَ دَخَلَ الدَّارَ وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِيَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ فَقَالُوا أَوِّلُوهَا لَهُ يَفْقَهْهَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنِّهُ نَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ فَقَالُوا فَالدَّارُ الْجَنَّةُ وَالدَّاعِي مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَى مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ 

Artinya: Jabir bin Abdillah berkata, suatu ketika malaikat mendatangi nabi shallallahu ‘alayhi wasallam sedangkan beliau dalam keadaan tidur, maka berkatalah sebagian malaikat, sesungguhnya dia tidur, dan berkata sebagian yang lain sesungguhnya matanya terpejam, tetapi hatinya terjaga, maka para malaikat itu berkata, sesungguhnya sahabat kalian ini memiliki perumpamaan, maka berilah perumpamaan baginya. Maka berkata sebagian malaikat, sesungguhnya dia tidur, dan sebagian lain berkata sesungguhnya matanya terpejam, dan hatinya terjaga, maka para malaikat berkata, perumpamaannya seperti seorang lelaki yang membangun sebuah rumah, dan menjadikan didalamnya undangan, serta mengutus pengundang, maka barangsiapa yang memenuhi undangan, maka dia akan masuk kerumah dan memakan hidangan, dan barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka dia tidak akan masuk kerumah dan tidak akan memakan hidangan, para malaikat berkata, tolong tafsirkan perumpamaan itu kepadanya. Lantas sebagian berkata, sesungguhnya dia tidur dan sebagian berkata pula sesungguhnya mata tertidur sedangkan hati terjaga maka mereka katakan, rumah itu adalah surga dan pengundang itu yakni Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, maka    barangsiapa mentaati Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepada Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, sungguh ia telah durhaka kepada Allah, dan Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam pembeda diantara manusia.

Demikian pula shahabat yang mulia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dimana beliau dinamai oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dengan julukan al-Faaruuq (pembeda) karena melalui dirinya, Allah subhanahu wata’ala membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Maka wahai pembaca, mungkinkan kita akan melupakan perbedaan didalam dakwah dengan hanya mencari persamaan? Akankah kita diamkan perbedaan prinsip didalam agama ini, dengan dalih mempersatukan ummat? Akankah kita persatukan kaum muslimin, sementara disana banyak mereka yang masih getol dengan bid’ah (ibadah-ibadah baru dalam agama) dan kesyirikan (perbuatan menyekutukan Allah dalam ibadah)? Akankah kita berdiam dari orang-orang yang memberontak kepada penguasa dengan mengatasnamakan jihad? Akankah kita diam dari orang-orang yang menghina para shahabat yang mulia, atas nama cinta ahlul bayt Rasulullah? Akankah kita diam dari orang-orang yang mengalihkan tauhid sebagai tujuan dakwah kepada khilafah ? Akankah kita diam dari orang-orang yang menolak mengambil hadits-hadits Rasulullah dan mencukupkan diri dengan mengambil Al-Qur’an semata?

Wallahi, bagi orang yang mendapatkan hidayah sunnah, tentu akan menjawab tidak. Simaklah satu riwayat berikut ini, yang menunjukkan bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menguraikan bahwasannya ada jalan yang lain selain jalan lurus yang telah ditempuh beliau bersama para shahabatnya,

عن عبد الله بن مسعود قال : خط لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم خطا ثم قال هذا سبيل الله ثم خط خطوطا عن يمينه وعن شماله ثم قال هذه سبل قال يزيد متفرقة على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه ثم قرأ { إن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله }

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menggariskan kepada kami sebuah garis kemudian beliau berkata ini jalan Allah, kemudian beliau menggariskan garis-garis yang banyak di kanan dan di kiri garis tadi, kemudian beliau berkata ini jalan-jalan, ia berkata bertambah bercerai berai dimana setiap jalan tersebut terdapat syaithan-syaithan yang memanggil kepadanya, kemudian beliau membaca ayat “dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnadnya (1/435)

Maka sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk menjadi seorang salafi. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: “As-Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala` 6/21)

Kita mengikuti manhaj (cara beragama) salafussholeh dari kalangan shahabat nabi ridwanallahu ‘alayhim ajma’in. Bersabar didalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Sesungguhnya kebenaran itu tak akan pernah bersatu dengan kebatilan, dan kebenaran itu tak akan pernah tenggelam walaupun badai fitnah terus melanda.

Al-Imam Asy-Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf maka ia adalah kesesatan.” (Al-Muwafaqat 3/284)

Sungguh Salafiyyah pemecah belah ummat! Ummat yang berbuat syirik, menuju tauhid. Ummat yang berbuat bid’ah, menuju Sunnah. Ummat yang masih mengambil agama mereka dari nenek moyang mereka, atau mengikuti pemahaman tokoh-tokoh yang jahil, menuju manhaj shahabat nabi.

Wallahu yahdiy ilaa shirotim mustaqim.

Abu Waqqash rahimahullah, Bumi Khatulistiwa / 23:33 WIB

Iklan

Awan Tag