Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Posts tagged ‘nasehat’

Kembali pada al-Qur’an dan Ahlulbait 1.0

Hadits ats-tsaqalain (al-Qur`an dan ahlulbait)  adalah salah satu hadits yang menjadi pokok perbedaan manhaj beragama antara Ahlussunnah dan Syi’ah. Dari hadits inilah kemudian muncul teologi ‘beragama menurut Ahlulbait’ yang diklaim oleh Syi’ah. Bahkan salah seorang mereka menulis buku yang cukup tebal (409 halaman), dengan judul “Dua Pusaka Nabi r: al-Qur`an dan Ahlulbait“. Bahkan buku baru syi’ah (September 2012) yang berjudul “Buku Putih Madzhab Syiah”, yang diluncurkan untuk  meredam gejolak umat Islam Indonesia yang semakin mengetahui kesesatan syi’ah, di halaman 94 menyebutkan bahwa hadits tsaqalain initermasuk “paling indah, paling shahih, dan paling tersebar luas di kalangan Muslimin. Hadits ini telah diabadikan oleh Enam Kitab Shahih (al-Kutub al-Sittah) dan para ulama juga menerimanya.”

Mereka beranggapan bahwa agama ini hanya akan betul dan sah jika dibawakan menurut jalur Ahlulbait, bukan selain mereka. Ahlulbait yang dimaksudkan di sini pun berbeda dengan apa yang dipahami Ahlussunnah dari al-Qur`an, Sunnah, sahabat dan bahkan ahlul-bait sendiri.  Jadi, mereka tidak ikut sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, sunnah Khulafaurrasyidin, dan sunnah para sahabat. Mereka hanya mengklaim ikut ahlulbait yang ahlulbait sendiri ternyata tidak mereka ikuti.

Sementara ahlussunnah dikenal dengan nama ahlussunnah waljamaah karena ikut Sunnah Nabi, sunnah Khulafa’ Rasyidin (termasuk di dalamnya ahlulbait yaitu Imam Ali, Imam Hasan) serta mengukuti Ijma’ para sahabat baik yang ahlulbait maupun non-ahlulbait. Sehingga ahlussunnah mengikuti al-Qur`an, sunnah Nabi, khulafaurrasyidin, sahabat dan ahlulbait sekaligus.

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba mendiskusikan hadits ats-tsaqalain ini dari beberapa jalur periwayatan, sekaligus bagaimana memahami makna yang ada di dalamnya.

Beberapa riwayat hadits ats-tsaqalain:

1.         Shahih Muslim

Pertama : Hadits Zaid bin Arqam (shahih)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Makhlad, keduanya dari Ibnu ‘Ulayyah: telah berkata Zuhair: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim: telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan: telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan, ia berkata: “Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Hushain bin Sabrah dan ‘Umar bin Muslim. Setelah kami duduk. Hushain berkata kepada Zaid bin Arqam: ‘Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah i, engkau mendengar sabda beliau, engkau bertempur menyertai beliau, dan engkau telah shalat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak wahai Zaid. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami -wahai Zaid– apa yang engkau dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam!’ Zaid bin Arqam berkata : ‘Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya.’ Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan: ‘Pada suatu hari RasulullahShalallahu ‘alaihi Wa Sallam berdiri berkhutbah di suatu sumber (mata air) yang disebutKhumm yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ

 ‘Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia (seperti kalian). Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang, lalu aku menjawabnya. Aku akan meninggalkan di tengah kalian Tsaqalain (dua hal yang berat), yaitu: Pertama, Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah kitabullah dan berpegang teguhlah kalian kepadanya.’ Beliau menghimbau dan mendorong untuk mengikuti Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan: ‘(Kedua), dan ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlubaitku’ – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali – . Maka Hushain bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Wahai Zaid, siapakah ahlulbait RasulullahShalallahu ‘alaihi Wa Sallam? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlulbaitnya?’ Zaid bin Arqam menjawab: ‘Istri-istri beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam memang ahlulbaitnya, namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau.’ Hushain berkata: ‘Siapakah mereka itu?’ Zaid menjawab: ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.’ Hushain berkata: ‘Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat?’ Zaid menjawab: ‘Ya.’

Kedua: hadits Zaid bin Arqam

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar-Rayyan: Telah menceritakan kepada kami Hassan -yaitu Ibnu Ibrahim-  dari Sa’id bin Masruq, dari Yazid bin Hayyan, dari Zaid bin Arqam dari Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, lalu dia menyebutkan haditsnya yang semakna dengan hadits Zuhair di atas.

Ketiga: Hadits Jarir

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail. Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim: Telah mengabarkan kepada kami Jarir; keduanya (Muhammad bin Fudhail dan Jarir) dari Abu Hayyan melalui jalur ini sebagaimana hadits Isma’il, dan di dalam hadits Jarir ada tambahan :

كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ مَنْ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ

“Yaitu Kitabullah, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya dan mengambil pelajaran dari dalamnya maka dia akan berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang menyalahinya, maka dia akan tersesat.”

Keempat: Hadits Zaid bin Arqam

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkaar bin Ar-Rayyan: Telah menceritakan kepada kami Hassan -yaitu Ibnu Ibrahim-, dari Sa’id -yaitu Ibnu Masruq-, dari Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam. Dia (Yazid) berkata : “Kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya: ‘Sungguh kamu telah memiliki banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah, shalat di belakang beliau…dan seterusnya sebagaimana hadits Abu Hayyan. Hanya saja dia berkata:  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :

أَلَا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ

 ’Ketahuilah, sesungguhnya aku meninggalkan di tengah kalian dua perkara yang berat. Salah satunya adalah Al Qur’an, yaitu tali Allah yang barangsiapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.’ Juga di dalamnya disebutkan perkataan: Lalu kami bertanya: “Siapakah ahlubaitnya, bukankah istri-istri beliau?” Dia menjawab: “Bukan, demi Allah. Sesungguhnya seorang istri bisa saja bersama suaminya di saat asar dari suatu masa kemudian suaminya menceraikannya lalu wanita itu kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Sedangkan ahlulbaitnya adalah ‘ashabahnya yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat sesudahnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2408].

2.  Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal

Hadits Zaid bin Arqam (shahih):

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim, dari Abu Hayyan At-Taimiy: Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan At-Taimiy, ia berkata: “Aku, Hushain bin Sabrah, dan ‘Umar bin Muslim berangkat menemui Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk bersamanya, Hushain berkata kepadanya: “Sesungguhnya Anda telah menemui kebaikan yang banyak wahai Zaid. Anda telah melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam dan mendengar haditsnya. Kemudian Anda juga telah berperang bersamanya dan shalat bersamanya. Sungguh, Anda telah melihat kebaikan yang banyak. Karena itu, ceritakanlah kepada kami apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam.” Zaid berkata: “Wahai anak saudaraku, demi Allah, usiaku telah lanjut, dan masaku pun telah berlalu, dan aku telah lupa sebagian yang telah aku hafal dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Maka apa yang aku ceritakan pada kalian, terimalah. Dan apa yang tidak, maka janganlah kalian membebankannya padaku.” Zaid melanjutkan berkata: “Pada suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berdiri dan berkhutbah kepada kami di sebuah mata air yang disebut Khumm, yakni bertempat antara Ka’bah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan mengungkapkan puji-pujian atas-Nya. Beliau memberi nasehat dan peringatan. Dan setelah itu beliau bersabda :

أَمَّا بَعْدُ أَلَا يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَنِي رَسُولُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فَأُجِيبُ وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

‘Amma ba’du, wahai sekalian manusia, aku hanyalah seorang manusia, yang hampir saja utusan Rabb-ku mendatangiku hingga aku pun memenuhinya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua perkara yang sangat berat di tengah-tengah kalian. Yang pertama adalah Kitabullah ‘azza wajalla. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, ambillah dan berpegang-teguhlah kalian dengannya.” Beliau memberikan motivasi terkait dengan kitabullah dan mendorongnya. Kemudian beliau bersabda lagi: “Dan (yang kedua adalah) ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlulbaitku, aku ingatkan kalian karena Allah tentang ahlulbaitku.” Kemudian Hushain bertanya kepada Zaid: “Dan siapakah ahlulbaitnya, wahai Zaid?” Bukankah isteri-isteri beliau adalah termasuk ahlulbaitnya?” Zaid menjawab: “Isteri-isteri beliau memang termasuk bagian dari ahlulbaitnya. Akan tetapi, ahlulbait beliau adalah siapa saja yang telah diharamkan baginya untuk menerima sedekah (zakat)  setelah beliau.” Hushain bertanya lagi: “Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.” Zaid bertanya lagi: “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima sedekah?” Ia menjawab : “Ya.” [4/366-367]

Hadits Abu Said al-Khudri (dhaif[1])

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي أَلَا إِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

 “Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang berat, salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahlul-baitku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka datang kepadaku di telagaku.” [3/26]

Hadits Zaid bin Tsabit (Dhaif)[2]

إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ خَلِيفَتَيْنِ: كِتَابُ اللهِ، حَبْلٌ مَمْدُودٌ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، أَوْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي، وَإِنَّهُمَا لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Aku tinggalkan di tengah kalian dua pusaka: kitabullah, yaitu tali Allah yang dijulurkan antara langit dan bumi atau antara langit sampai ke bumi dan ‘itrahku ashli baitku, sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga mendatangiku di telaga.”

3.   Sunan At-Tirmidzi

Hadits Jabir bin Abdillah t (dhaif)[3]

Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam dalam hajinya ketika di ‘Arafah, sementara beliau berkhutbah di atas untanya – Al-Qashwa`- dan aku mendengar beliau bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

 ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang dengannya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu Kitabullah dan ‘itrahku  ahlulbaitku.” [no. 3786]

Hadits Zaid bin Arqam (dhaif)[4]

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :

إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنْ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang sekiranya kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, salah satu dari keduanya itu lebih besar dari yang lain, yaitu; Kitabullah adalah tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahli baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telaga, oleh karena itu perhatikanlah oleh kalian, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku” [no. 3788].

4.   Al-Ma’rifah wat-Taarikh (Abu Yusuf Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi, 227 H)

Hadits Zaid bin Arqam (diperselisihkan)

Dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Telah bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam: “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla, dan ‘itrahku ahlulbaitku. [Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Al-Haudh].” (1/536; kalimat yang terakhir dhaif).

5.  Mustadrak Al-Hakim.

Hadits Zaid bin Arqam: (dhaif)[5]

Dari Abu ath-Thufail bin Watsilah: Bahwasannya ia mendengar Zaid bin Arqam t berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam singgah di suatu tempat antara Makkah dan Madinah di dekat lima pohon yang teduh dan besar maka orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah r beristirahat di sore hari kemudian mendirikan shalat. Setelah itu beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berkhutbah. Beliau memuji dan menyanjung Allah ta’ala, mengingatkan dan memberikan nasehat (kepada manusia). Kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :

”Wahai sekalian manusia, aku tinggalkan kepadamu dua perkara, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan ahlulbaitku ‘itrahku.” Kemudian beliau melanjutkan: “Bukankah kalian mengetahui bahwa aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri?” (sebanyak 3 x). Orang-orang menjawab : “Ya.” Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda: ”Barangsiapa yang aku ini maulanya (orang yang dicintai/ditaatinya), maka Ali adalah maulanya.” [no. 4577]

6.   Musykiilul-Aatsaar (al-Thahawi)

Hadits Ali (dhaif)[6]

Dari Muhammad bin ‘Umar bin ‘Aliy, dari ayahnya, dari ‘Ali: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berteduh di Khum kemudian beliau keluar sambil memegang tangan ‘Ali. Beliau berkata: “Wahai manusia, bukankah kalian bersaksi bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Rabb kalian?” Orang-orang berkata: “Benar.” Beliau kembali bersabda: “Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri; serta Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah maula bagi kalian?” Orang-orang berkata, “benar.” BeliauShalallahu ‘alaihi Wa Sallam kembali bersabda: “Maka barangsiapa yang aku ini maulanya maka dia ini juga maulanya,” atau [Rasul Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda]: “Maka ‘Ali sebagai maulanya” [keraguan ini dari Ibnu Marzuq]. Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah yang berada di tangan kalian, dan Ahlulbaitku.” [3/56]

7.  Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah

Hadits Ali (Dhaif):

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda: “Aku tinggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian mengambilnya, kalian tidak akan sesat, yaitu Kitabullah yang sebabnya ada di tangan-Nya dan sebabnya ada di tangan kalian, dan ahli baitku.”

Pemahaman yang utuh dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar.

  1. Sebagaimana diketahui bahwa hadits di atas diucapkan Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam pada waktu yang sama dan disaksikan lebih dari seorang shahabat. Yaitu saat pulang dari  haji wada’, tepatnya di satu tempat yang bernama Khumm. Jika kita ketahui bahwa hadits ini keluar dari orang yang satu (yaitu Nabi i), waktu yang satu (yaitu saat pulang haji wada’), dan tempat yang satu (Khumm), maka lafal hadits ini pun sebenarnya satu. Hukum dan maknanya pun juga satu.

Oleh karena itulah, kita perlu melihat keseluruhan lafal hadits dari riwayat yang berbeda-beda sehingga kita bisa melihat lafal hadits tersebut secara utuh. Karena telah maklum bahwa kadang satu hadits sengaja dibawakan oleh seorang perawi dengan meringkas, dan di lain riwayat ia bawakan secara lengkap. Juga, kadang seorang perawi menerima hadits dengan lafal ringkas, namun perawi selain dirinya membawakan secara lengkap. Juga adanya faktor kekurangan dalam sifat hafalan seorang perawi sehingga ia membawakan hadits yang semula panjang (lengkap), namun kemudian ia bawakan secara ringkas. Dan beberapa kemungkinan yang lainnya.

  1. Hadits yang mempunyai latar belakang kisah, lebih kuat penunjukan hukumnya daripada yang tidak.

Ini mewajibkan kita untuk menelaah keseluruhan lafal hadits yang ada.

Telah shahih riwayat dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad bahwa ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berwasiat kepada umatnya tentang dua perkara yang berat (ats-tsaqalain), beliau berkata :

أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ

“Pertama, Kitabullah yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia dan berpegang teguhlah kalian dengannya.”

Kemudian beliau menyambung perkara yang kedua:

وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“(Kedua), dan ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlubaitku.”

Dari riwayat ini sangat jelas diketahui bahwa perintah untuk berpegang teguh ditujukan kepada Kitabullah. Adapun kepada Ahlulbait, beliau mengingatkan umatnya untuk memenuhi hak-haknya (sebagaimana diatur dalam syari’at) jangan sampai menzhaliminya.

  1. Dari semua riwayat tadi yang shahih adalah riwayat Zaid bin Arqam radiyallahu ‘anhumayang tidak mengandung perintah berpegang teguh dengan ‘itrah (ahlulbait) melainkan berpegang teguh hanya dengan Kitabullah. Ini sesuai dengan hadits Jabir bin Abdillah dalam Shahih Muslim bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berwasiat:

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ، كِتَابُ اللهِ

            “Aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang kalian tidak akan sesat setelahnya selama-lamanya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitabullah.” Jadi, tidak ada perintah untuk perpegang teguh dengan ahlulbait. Hadits yang memerintahkan demikian didhaifkan oleh Imam Ahmad dan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah. Memang Syekh al-Albani menshahihkan, akan tetapi pemaknaannya beliau bawa kepada yang muhkam, yaitu sama maknanya dengan mengikuti al-Qur`an dan sunnah Khulafaurrasyidin dan para sahabatnya.

  1. Baik, seandainya haditsnya shahih, atau kita mengalah bahwa kita diperintah untuk berpegang teguh dengan tsaqalain. Lalu siapakah tsaqalain itu? Tsaqalain adalah Kitabullah dan ‘Itrah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Ibnul Atsir berkata: disebuttsaqalain karena mengambil keduanya dan mengamalkannya adalah berat. Dikatakan untuk setiap yang penting dan berharga “tsaqal” maka keduanya disebut tsaqalainuntuk mengagungkan dan meninggikan urusan keduanya.” (Gharibul Hadits, 1/216).

Jadi, arti hadits Nabi i ini adalah perintah untuk menjaga hak-hak ahlulbait, oleh karena itu para sahabat radiyallahu ‘anhuma telah memberikan hak tsaqalain ini dengan sempurna. Inilah Abu Bakar al-Shiddiq radiyallahu ‘anhum berkata:

  والذي نفسي بيده لقرابة رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب إلي أن أصِلَ من قرابتي

“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kekerabatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam  lebih aku cintai untuk aku sambung daripada keluargaku sendiri.” (HR. Bukhari) [*]

***********************

 Bersambung …..

 


[1] HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Ya’la, Ibn Abi Ashim. Dhaif karena ada ‘Athiyyah Al-‘Aufiy yang didhaifkan oleh Ahmad, Abu Hatim, Nasa`I, dll. bahkan sepakat atas kelemahannya.

[2] HR. Ahmad dan Thabrani,  ada al-Qasim bin Hassan dinilai tsiqah oleh Ahmad bin shalih dan al-Ajuli dan disebut oleh ibnu Hibban dalam al-Tsiqat tetapi dilemahkan oleh Bukhari dan Ibnu Qaththan. Ibnu Abi Hatim mendiamkannya, dan ibnu Hajar berkata: maqbul. Di dalamnya juga ada Syuraik bin Abdillah: buruk hafalannya.

[3] karena  Zaid bin Al-Hasan Al-Anmathiy matruk al-Hadits.

[4] dua sanad yang poros sanadnya pada Al-A’masy; yang satu karena ada  ‘Athiyyah Al -‘Aufiy  karena Habiib bin Abi Tsaabit  yang banyak melakukan tadliis dan irsal, tidak diterima kecuali jika ia membawakan dengan tashriih penyimakannya.

[5] dikarenakan Muhammad bin Salamah bin Kuhail.

[6] Hasan, karena Katsiir bin Zaid Al-Aslamiy As-Sahmiy, yang diperselisihkan.

ref: http://www.binamasyarakat.com/

Cara Hikmah Menasehati Pemimpin

Menasehati pemimpin termasuk perkara agama yang paling penting. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya, dari Tamim Ad-Dari radiallahuanhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Agama adalah nasehat, kami bertanya:”Untuk siapa ? Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kuam muslimin, dan seluruh kaum musliman”.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya, dari Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu , dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
ثَلاَثٌ لاَ يُغَلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومِ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
“Tiga perkara yang membuat hati seorang muslim tidak berkhianat: ”Mengikhlaskan amal kepada Allah, menasehati para pemimpin kaum muslimin , dan menetapi jama’ah mereka karena do’a meliputi ( mereka) dari belakang mereka”.
Adapun ma’na hadis diatas: ”Bahwa tiga perkara yaitu: ”Mengikhlaskan amal kepada Allah Azza wa Jalla, menasehati pemimpin, dan menetapi jama’ah, barangsiapa yang melaksanakannya maka tiadak ada dalam hatinya sikap khianat, menipu, dan dengki.
Berkata Abu Nu’aim Al-Asbahani: ”Barangsiapa yang menasehati para pemimpin dan para penguasa maka ia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa menipu mereka maka ia telah sesat dan berbuat zolim”.
Bentuk-Bentuk Menasehati Pemimpin
Menasehati pemimpin ada empat bentuk:
Bentuk Pertama: ”Seseorang menasehati pemimpin secara rahasia”.
Bentuk Kedua: ”Menasehati pemimpin dihadapannya secara terang-terangan ditengah-tengah masyarakat, padahal ia mampu menasehatinya secara rahasia”.
Bentuk Ketiga: ”Seseorang menasehati pemimpin secara rahasia, kemudian ia pergi dan menyebarkan nasehat tersebut ditengah-tengah masyarakat”.
Bentuk Keempat: ”Mengingkari pemimpin pada saat ia tadak ada ditengah-tengah majlis, ketika memberi nasehat, ceramah, menyampaikan pelajaran, dan lain-lain”.
Keempat bentuk ini akan kami sebutkan -Insya Allah- satu demi satu.

Bentuk pertama: ”Seseorang Menasehati Pemimpin Secara Rahasia”
Menasehati pemimpin secara rahasia termasuk pokok man’haj salaf yang telah diselisihi oleh Ahlul ah’wa (pengikut hawa nafsu) dan Ahlu bid’ah, seperti khawarij.
Karena hukum asal menasehati pemimpin adalah menasehati secara rahasia, tidak dengan cara terang-terangan. Adapun dalilnya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Iyadh radiallahuanhu , ia berkata:”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ »
“Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin karena suatu hal maka jangalah ia melakukannya secara tereng-terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya dan menyendiri dengannya (secara empat mata) . Jika pemimpin tersebut menerima nasehatnya maka itu yang inginkan, jika tidak maka ia telah melaksanakan kewajibannya”.
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin karena suatu hal” maksudnya, Umum siapa saja penasehatnya dan umum siapa saja pemimpinnya.
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”maka jangalah ia melakukannya secara terang-terangan” maksudnya, larangan melakukan nasehat secara terang-terangan, dan larangan itu menunjukkan haram, oleh karena itu wajib melakukan nasehat secara rahasia.
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya” maksudnya, penjelasan tentang menasehati pemimpin dengan cara yang sya’ri yaitu, secara rahasia bukan dengan cara terang-terangan.
Sabda Naba shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “dan menyendiri dengannya” maksudnya, menyendiri (empat mata). Seperti perkataan Usamah radiallahuanhu: ”Apakah menurut kalian saya tidak berbicara dengannya melainkan saya harus menyampaikan kepada kalian ? Demi Allah, sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata”. Sebagaimana diriwayatkan Bukhori dan Muslim dalam Shahih keduanya, dari Syaqiq, dari Usamah bin Zaid radiallahuanhu,ia berkata:
قِيلَ لَهُ أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَه
”Ada yang bertanya kepadanya: ”Tidakkah kamu menemui Utsman kemudian kamu berbicara dengannya ? Ia jawab: ”Apakah menurut kalian saya tidak berbicara dengannya melainkan saya harus menyampaikannya kepada kalian ? Demi Allah, sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata tanpa membuka suatu perkara yang saya tidak suka sayalah orang pertama yang membukanya”.
Atsar diatas menunjukkan bahwa menasehati pemimpin secara terang-terangan merupakan perkara mungkar yang akan menimbulkan fit’nah, (sebaliknya) nasehat secara rahasia merupakan asas yang akan memudahkan terlaksananya nasehat tanpa menimbulkan fit’nah dan kekacauan dari rakyat terhadap pemimpin. Sebagaimana perkataan Usamah radiallahuanhu : ”Demi Allah , sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata”.
Berkata Syeikh Ibnu Baaz ketika memberikan catatan terhadap atsar Usamah radiallahuanhu: ”Tatkala mereka memunculkan kejelekan di zaman Utsman radiallahuanhu dan mengingkari Utsman radiallahuanhu secara terang-terangan maka tersebarlah fit’nah, peperangan, dan kerusakan yang senantiasa bekas-bekasnya masih dirasakan oleh orang-orang sampai hari ini, hingga terjadilah fit’nah antara Ali radiallahuanhu dan Muawiyyah radiallahuanhu serta terbunuhnya Utsman radiallahuanhu dan Ali radiallahuanhu disebabkan hal itu. Bahkan sebagian besar dari para sahabat dan selain mereka terbunuh disebabkan pengingkaran (terhadap pemimpin) dan penyebutan aib-aib mereka yang dilakukan secara terang-terangan, sehingga masyarakat menjadi benci terhadap pemimpin mereka lalu mereka membunuhnya. Hanya kepada Allah Azza wa Jalla kita memohan keselamatan”.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Sa’id bin Jum’han, ia berkata: ”Saya pernah berjumpa dengan Abdullah bin Abi Aufa radiallahuanhu , kemudian saya berkata kepadannya: ”Sesungguhnya pemimpin telah berbuat zolim terhadap masyarakat, ia (Ibnu jum’han ) melanjutkan: ”Lalu Abdullah menarik tangan saya dan memegangnya kuat-kuat dengan tangannya kemudian ia (Abdullah) berkata: ”Celaka kamu wahai Ibnu Jum’han, hendaknya kamu menetapi jama’ah, hendaknya kamu menetapi jama’ah. Bila pemimpin mau mendengarkan kamu maka datangilah ia, lalu kabarkanlah kepadanya apa yang kamu ketahui, jika ia menerima (nasehat) darimu maka (itulah yang diharapkan), jika tidak maka biarkanlah ia, karena ia lebih tahu daripada kamu”.
Perhatikanlah (atsar) diatas bagaimana sahabat yang mulia Ibnu Abi Aufa  melarang Ibnu Jum’han membicarakan pemimpin dan memerintahnya untuk menasehati pemimpin scara rahasia, tidak secara terang-terangan.
Berkata Ibnu Nuhaas: ”Pilihlah berbicara dengan pemimpin ditempat yang sunyi daripada berbicara dengannya di hadapan orang banyak”.
Berkata Imam Syaukani: ”Selayaknya bagi orang yang mengetahui kesalahan pemimpin di sebagian masalah menasehatinya dan janganlah ia tampakkan kesalahan tersebut dihadapan orang-orang, akan tetapi (hendaklah ia lakukan) apa yang tertera dalam hadis yaitu, memegang tanganya dan menyendiri dengannya, serta memberikan nasehat kepadanya dan tidak merendahkannya”.
Berkata Aimmatu Da’wah: ”Kema’siatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh para pemimpin yang tidak menyebabkan kafir dan keluar dari islam maka kewajiban (kita) adalah menasehati mereka dengan cara yang syar’i, penuh kelembutan, dan mengikuti apa yang telah ditempuh Salafus Shaleh dengan tidak mencela mereka dimajelis-majelis dan tempat berkumpulnya orang-orang”.
Berkata Al-Allamah As-Sa’di: ”Orang yang melihat para pemimpin melakukan sesuatu yang tidak halal maka hendaklah ia mengingatkan mereka secara rahasia, tidak dengan terang-terangan, dengan penuh kelembutan dan menggunakan kata-kata yang sesuai dengan kedudukan mereka”.
Berkat Syeikh Ibnu Baaz: ”Cara yang telah ditempuh oleh para Salaf yaitu, mereka menasehati pemimpin secara empat mata, menulis surat buat mereka (para pemimpin), atau menghubungi para ulama’ yang bisa menghubungi pemimpin sehingga pemimpin tersebut bisa diarahkan kepada kebaikan”.
Mengingkari kemungkaran hendaknya dilakukan dengan tidak menyebutkan pelakunya. Maka yang diingkari adalah zina, khomer, dan riba tanpa disebutkan pelakunya, jadi cukup mengingkari dan memperingatkan ma’siat tanpa menyebutkan bahwa sianulah yang telah melakukannya, ini diterapkan bagi pemimpin dan selain pemimpin”.

Bentuk Kedua: ”Menasehati Pemimpin Di Hadapannya Secara Terang-Terangan, Di Tengah-Tengah Masyarakat, Padahal Ia Mampu Menasehatinya Secara Rahasia”
Bentuk nasahat seperti ini diharamkan, tidak boleh dilakukan karena beberapa alasan berikut ini:
1. Menyelisihi hadis Iyadh bin Gonm radiallahuanhu, karena dalam hadis tersebut terdapat perintah untuk menasehati secara rahasia.
2. Menyelisihi atsar Salaf dan man’haj (cara) mereka, seperti Usamah bin Zaid , Abdullah Ibnu Abi Aufa radiallahuanhu dan yang lainnya.
3. Masuk dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ”Barangsiapa yang menghina pemimpin Allah di dunia maka Allah akan menghinakannya”. (H.R Tirmidzi).
Berkata Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz bin Utsaimin: ”Apabila membicarakan pemimpin di saat ia tidak ada atau menasehatinya secara terang-terangan kemudian menyebarkan nasehat tersabut merupakan bentuk penghinaan terhadap pemimpin yang pelakunya diancam oleh Allah dengan penghinaan-Nya maka tidak diragukan lagi bahwa wajib memperhatikan apa yang telah kami sebutkan yaitu, nasehat secara rahasia bagi orang yang mampu menasehati mereka dari kalangan para ulama yang bisa menemui mereka”.
Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab: ”Apabila muncul kemungkaran dari seorang pemimpin atau orang lain maka hendaklah dinasehati dengan lemah lembut dan dilakukan secara rahasia tanpa diketahui oleh seorangpun. Jika ia menerima nasehat tersebut maka (itulah yang diinginkan), jika tidak hendaklah diutus seseorang secara diam-diam yang perkataanya diterima, jika ia tetap tidak mau laksanakan maka tidak mengapa diingkari secara terang-terangan. Hanya saja bila yang dinasehati adalah pemimpin kemudian ia tidak mau menerimanya, dan telah diutus seseorang namun ia tetap tidak mau menerima maka perkara ini akan kami selesaikan secara diam-diam”.

Bentuk Ketiga: ”Seseorang Menasehati Pemimpin Secara Rahasia, Kemudian Ia Pergi Dan Menyebarkan Nasehat Tersebut Di Tengah-Tengah Masyarakat”
Bentuk nasahat seperti ini diharamkan karena beberapa alasan:
1. Menyelishi hadis Iyadh bin Gonm radiallahuanhu, sebab maksud dan tujuannya adalah tidak menampakkan nasehat tersebut dihadapan orang-orang karena akan menimbulkan berbagai macam kerusakan.
2. Menyelisihi petunjuk Salaf (berkaitan dengan sikap mereka) terhadap para pemimpin.
3. Bentuk nasehat seperti ini akan menimbulkan riya dan termasuk tanda lemahnya keikhlasan.
4. Bentuk nasehat seperti ini akan menimbulkan fit’nah, kekacauan, dan perpecahan ditengah-tengah masyarakat.
5. Bentuk nasehat seperti ini termasuk tindakan perendahan terhadap pemimpin. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله
“Barangsiapa yang menghina pemimpin Allah di dunia maka Allah akan menghinakannya”.
Berkata Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz bin Utsaimin: ”Apabila membicarakan pemimpin di saat ia tidak ada atau menasehatinya secara terang-terangan kemudian menyebarkan nasehat tersabut merupakan bentuk penghinaan terhadap pemimpin yang pelakunya diancam oleh Allah Azza wa Jalla dengan penghinaan-Nya maka tidak diragukan lagi bahwa wajib memperhatikan apa yang telah kami sebutkan yaitu, nasehat secara rahasia bagi orang yang mampu menasehati mereka dari kalangan para ulama yang bisa menemui mereka”.
Berkata Syeikh Sa’di: ”(Nasehatilah pemimpin) dengan cara yang terpuji yaitu, – secara rahasia dan dengan penuh kelembutan -. Wahai seorang penasehat berhati-hatilah, (jangan sampai) kamu merusak nasehatmu dengan memuji-muji dirimu dihadapan orang-orang, lalu kamu katakan kepada mereka: ”Sesungguhnya saya telah menasehati pemimpin, saya telah mengatakan ini dan itu, karena ini semua merupakan tanda riya dan tanda lemahnya keikhlasan serta terdapat bahaya-bahaya lain yang telah diketahui”.
Bentuk Keempat: ”Menasehati Pemimpin Di Saat Ia Tidak Ada, Di Tengah-Tengah Majelis, Ketika Memberi Nasehat, Ceramah, Menyampaikan Pelajaran, Dan Lain-Lain”
Bentuk nasehat seperti ini diharamkan karena beberapa alasan:
1. Ini merupakan perbuatan gibah dan kedustaan terhadap pemimpin. Allah  berfirman:
“Janganlah mengunjingkan satu sama lain”. (Al-Hujaraat:12).
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shohihnya, dari Abu Hurairah radiallahuanhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tahukah kalian apa itu gibah ? Para sahabat berkata: ” Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Kamu menyebutkan sesuatu yang dibenci saudaramu, ada yang bertanya: ”Bagaimana menurut anda bila yang saya sebutkan ada pada diri saudara saya ! Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Jika yang kamu sebutkan ada pada dirinya maka kamu telah menggibahinya, jika (yang kamu sebutkan) tidak ada pada dirinya maka kamu telah berbuat dusta”.
Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya  telah melarang gibah, tidak diragukan lagi bahwa membicarakan pemimpin disaat ia tidak ada termasuk gibah walaupun yang dibicarakan benar, jika yang dibicarakan tidak benar maka itu suatu kedustaan.
2. Bentuk nasehat seperti ini termasuk perbuatan adu domba yang akan menimbulkan fit’nah dan kekacauan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, dari Abdullah bin Mas’ud , ia berkata: ”Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ هِىَ النَّمِيمَةُ الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ »
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang Al-Adh ? Ia adalah An- Namimah yaitu: ”Banyak menukil diantara manusia (mengadu damba)”.
3. Bentuk nasehat seperti ini menyelisihi hadis Iyadh bin Gonm radiallahuanhu yang menjelaskan wajibnya menasehati secara rahasia.
4. Bentuk nasehat seperti ini menyelisihi petunjuk Salaf berkaitan dengan cara menasehati pemimpin.
5. Bentuk nasehat seperti ini termasuk tindakan penghinaan terhadap pemimpin dan ini diharamkan.
6. Bentuk nasehat seperti ini bisa mengakibatkan pertumpahan darah dan pembunuhan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad didalam Thobaqoot, dari Abdullah bin Ukaim Al-Juhani, ia berkata:
”Saya tidak akan lagi membatu terjadinya pertumpahan darah seorang Kholifah buat selama-lamanya setelah Utsman radiallahuanhu !!. Ada yang bertanya kepadanya:”Ya Abu Ma’bad apkah kamu yang telah membantu sehingga darahnya mengalir ? Ia jawab:”(Iya) karena saya telah membantu menyebutkan kejelekan-kejelekannya sehingga darahnya mengalir !”.
Perhatikanlah atsar diatas dengan baik yang mana menyebutkan kejelekan-kejelekan pemimpin dianggap sebagai perbuatan membantu terjadinya pertumpahan darah.
Berkata Aimmatu Da’wah: ”Segala Kema’siatan dan pelanggaran yang tidak meyebabkan kafir dan keluar dari islam, yang dilakukan para pemimpin maka kewajiban kita adalah menasehati mereka dengan cara yang syar’i, penuh kelembutan, mengikuti cara Salafus Shaleh dan tidak mencela mereka di majelis-majelis dan tempat berkumpulnya orang-orang. Adapun keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan termasuk kemungkaran yang wajib diingkari oleh setiap orang, (keyakinan seperti ini) merupakan kesalahan yang buruk dan kebodohan yang jelas, pelakunya tidak mengetahui akibat yang timbul (dari keyakinan tersebut) berupa kerusakan-kerusakan besar yang menimpa agama dan dunia. Hal ini telah diketahui oleh orang yang Allah Azza wa Jalla terangi hatinya dan ia mengetahui jalan Salafus Sholeh serta Aimmatu Diin”.
Berata Syeikh Ibnu Utsaimin: ”Sebagian orang terbiasa di setiap majelisnya membicarakan para pemimpin, mencela kehormatan-kehormatan mereka, menyebarkan keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan mereka, sebaliknya ia malah berpaling dari kebaikan-kebaikan dan kebenaran yang telah mereka lakukan. Tidak diragukan lagi bahwa tindakkan seperti ini (melupakan kebaikan-kebaikan mereka) dan mencela kehormatan-kehormatan mereka tidaklah menambah melainkan malapetaka. Sebab tindakan seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah dan menghilangkan kezoliman, akan tetapi hanya akan menambah musibah dan musibah, memancing kebencian mereka, dan perintah-perintah mereka yang wajib dita’ati tidak akan dilaksanakan”.
Berkata Syeikh Ibnu Baaz: ”Menyebarkan aib para pemimpin dan menyebutkan aib mereka diatas mimbar-mimbar bukannlah man’haj salaf, karena hal itu akan menimbulkan revolusi-revolusi dan akan meniadakan (kewajiban) patuh dan ta’at (terhadap mereka) dalam kebaikan serta akan menimbulkan pemberontakan yang berbahaya dan tidak bermanfa’at”.
Berkata Syeikh Ibnu Utsaimin: ”Demi Allah, demi Allah pemahaman man’haj Salafus Shalih dalam bermuamalah dengan pemimpin adalah dengan tidak menjadikan kesalahan-kesalahan mereka sebagai jalan untuk memprovokasi masyarakat dan membuat mereka benci terhadap para pemimpin, karena ini adalah biang dari kerusakan dan merupakan sebab utama terjadanya fit’nah ditengah-tengah masyarakat. Sebagaimana kebencian terhadap para pemimpin akan menimbulkan kejelekan, fit’nah, dan kekacauan demikian pula kebencian terhadap para ulama akan menimbulkan sikap merendahkan kedudukan para ulama, selanjutnya meremehkan syariat yang dibawa oleh mereka (para ulama). Apabila seseorang berusaha merendahkan kedudukan para ulama dan para pemimpin niscaya syariat dan keamanan akan terabaikan, sebab masyarakat, apabila telah membicarakan para ulama maka mereka tidak akan lagi percaya terhadap perkataan mereka (para ulama) dan apabila mereka telah membicarakan para pemimpin maka mereka akan menolak perkataan para pemimpin kemudaian terjadilah kejelekan dan kerusakan.
Oleh karena itu wajib bagi kita memperhatikan apa yang telah ditempuh para Salaf dalam bergaul dengan para pemimpin dan hendaklah masing-masing orang mengoreksi dirinya serta mengetahui akibat dari perbuatannya.
Perlu diketahui bahwa orang yang melakukan pemberontakan (pada hakekatnya) ia hanya memberikan bantuan terhadap musuh-musuh islam, keberhasilan itu bukan dengan pemberontakan dan kemarahan akan tetapi keberhasilan itu dengan hikmah (kebijaksanaan).
Bukanlah maksud saya bahwa hikmah di sini berarti diam dari kesalahan, akan tetapi memperbaiki kesalahan, hendaklah kita memperbaiki kesalahan-kesalahan, bukan merubah kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu seorang penasehat dialah yang berbicara untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, bukan merubah kesalahan-kesalahan.
Ditrjemahkan dari kitab ”As-Sunnah fii Maa Yata’allaq bi Waliyil Ummah” karya Syeikh Al-Fadhil Al-Allamah As-Salafi Ahmad Ibnu Umar bin Salim Bazamul dengan sedikit perubahan. Penerjemeh Abu Hafidz Amir As-Soron’ji.

Awan Tag