Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Posts tagged ‘Ramadhan’

Salafy Mengajak Taat Pada Pemerintah

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah karut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fisik.
Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.
Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab dapat tegak kembali di masa kini.
Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”. Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin al-Khaththab, namun kewajiban yang Allah perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.

Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim
Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapa pun jelek dan zalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.
Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah seperti keadaan orang-orang jahiliah.1 (Lihat ucapan al-Imam an-Nawawi  dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata, “Kami masuk ke rumah Ubadah bin ash-Shamit z ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya, ‘Sampaikanlah hadits kepada kami—aslahakallah (semoga Allah memperbaiki keadaanmu)—dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata,
دَعَانَا رَسُوْلُ اللهِ  فَبَايَعَنَاَ، فَكَاَنَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطاَّعَةِ، فِيْ مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرَا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ
“Rasulullah  memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara bai’atnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak—beliau berkata—kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hlm.192, cet. Maktabatur Riyadh al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut, cet. 1)

Wajib Taat Walaupun Jahat dan Zalim
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, Rasulullah bersabda:
إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُنَا؟
“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak, red.) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka (para sahabat, red.) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau berkata,
تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata, “Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu… (disebutkan kejelekan-kejelekan).’ Maka Rasulullah n bersabda:
وَاتَّقُوا اللهََ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا
‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’.” (Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam as-Sunnah dan lain-lain. Lihat al-Wardul Maqthuf, hlm. 32)
Ibnu Taimiyah berkata, “Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah n dalam hadits yang masyhur.” (Majmu’ Fatawa juz 28, hlm. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyah Mesir)
Sedangkan menurut al-Imam an-Nawawi, “Kesimpulannya adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Ibnu Hajar berkata, “Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)

Tetap Taat Walaupun Cacat
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya. Namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa—baik dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan—maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu menaatinya (pada perkara tersebut, red.) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dia berkata:
إِنَّ خَلِيْلِيْ أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَ أَطِيْعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ
“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat).2” (Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut. HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hlm. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah t, dia berkata, “Berkata kepadaku ‘Umar, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
Wallahu a’lam.


1 Maksudnya seperti keadaan matinya orang-orang jahiliah yaitu di atas kesesatan dan tidak memiliki pemimpin yang ditaati karena mereka dahulu tidak mengetahui hal itu. (Fathul Bari, 7/13, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam hlm. 166, red.)
2 Kalimat mujadda’ bermakna terpotong anggota badannya atau cacat, seperti terpotong telinga, hidung, tangan, atau kakinya. Namun sering kalimat mujadda’ dipakai dengan maksud terpotong hidungnya. Sedangkan mujadda’ul athraf, Ibnu Atsir dalam an-Nihayah berkata,  “Maknanya adalah terpotong-potong anggota badannya, ditasydidkan huruf ‘dal’-nya untuk menunjukkan banyak.” (pen.)

ref: syariahonline.com

Sungguh Merugi…

Imej

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Tulisan ini mengingatkan kepada kaum muslim, agar benar-benar menggunakan waktu di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Para pembaca yang budiman…

Di setiap malam bulan Ramadhan Allah Ta’ala mengampuni dan memerdekakan hamba-hamba-Nya dari api neraka…subhanallah, semoga kita termasuk di dalamnya. Allahumma amin.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika pada awal malam bulan Ramadhan maka para syetan dan pemimpin jin terbelenggu, dan tertutup pintu-pintu neraka dan tidak satu pintupun terbuka, dan dibukakan pintu-pintu surga dan tidak satu pintupun tertutup, lalu ada suara yang menyeru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Dan wahai pencari keburukan, cukuplah! Dan Allah mempunyai orang-orang yang dimerdekakan dari neraka dan yang demikian itu pada setiap malam!” (Hadits riwayat Tirmidzi, dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’)

Oleh sebab inilah…

Jangan biarkan bulan Ramadhan ini berlalu begitu saja sebelum kita diampuni dan dimerdekakan oleh Allah Ta’ala dari api neraka.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku, Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya), Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al jami’)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ، فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ؟ قَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَقَالَ : مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغَفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُبِرَّهُمَا فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبَعْدَهُ اللَّهُ , قُلْ : آمِينَ , قُلْتُ : آمِينَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah naik ke atas mimbar, lalu bersabda: “Amin, amin, amin”, lalu beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ketika engkau naik ke atas mimbar, engkau mengucapkan: “Amin, amin, amin”, kenapa?”, beliau menjawab: “Sesungguhnya Jibril telah mendatangiku, lalu berkata: “Siapa yang mendapati bulan Ramadhan lalu tidak diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga), katakanlah: “Amin (Kabulkanlah, Ya Allah)”, maka akupun mengucapkan: “Amin”, lalu Jibril berkata lagi: “Siapa mendapati kedua orangtuanya atau salah satunya dan tidak berbakti kepada keduanya, lalu dia mati dan tidak diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga)”, katakanlah: “Amin”, maka akupun mengucapkan: “Amin”, Jibril berkata lagi: “Siapa yang disebutkan aku lalu dia tidak bershalawat atasku, lalu dia mati dan tidak diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga)”, katakanlah: “Amin”, maka akupun mengucapkan: “Amin”. (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’)

Maksud dari : “رغم أنف” (Sungguh sangat terhina dan rendah), ini adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan kepada kiasan tentang puncaknya kehinaan dan kerendahan seseorang karena dia tidak menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. (Lihat kitab Mir’at Al Mafatih Syarh Misykat Al Mashabih, karya Ubaidullah Al Mubarakfury)

Maksud dari: “…seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya)”, adalah:

“Berlalu bulan Ramadhan sebelum diampuni baginya dosa-dosanya karena dia tidak bertaubat dan tidak mengagungkan bulan Ramadhan dengan bersungguh-sungguh di dalam ketaatan sehingga diampuni baginya dosa-dosanya”. (Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, karya Muhammad Al Mubarakfury)

“Sungguh terhina seseorang yang mengetahui bahwa, kalau dia menahan dirinya dari hawa nafsu selama sebulan pada setiap tahun, dan mengerjakan apa yang diwajibkan baginya yaitu berupa puasa dan shalat tarawih, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu, tetapi dia malah meremehkan dan tidak beribadah (sebagaimana mestinya), sampai selesai dan berlalu bulan tersebut. Maka siapa yang mendapati kesempatan yang sangat besar ini, yaitu dengan mengerjakannya karena iman dan mengharapkan pahala, maka Allah akan memuliakannya, sedangkan yang tidak mengagungkan-Nya maka Allah akan menghinakan dan merendahkannya”. (Lihat kitab Faidh Al Qadir Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, karya Al Munawi)

Para pembaca yang budiman…

Sekali lagi ketauhilah…semoga kita selalu dalam rahmat-Nya.

Bulan Ramadhan cuma sebulan, maka jangan biarkan dia berlalu tanpa kita isi dengan amal ibadah dan ketaatan kepada Allah karena iman dan berharap pahala dari-Nya.

Terakhir…sebagai peringatan! Hadits tentang bulan Ramadhan yang berbunyi:

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Artinya: “Dan dia adalah bulan pertamanya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya kemerdekaan dari apin neraka”.

Hadits ini derajatnya mungkar, yaitu hadits lemah menyelisihi hadits yang shahih, karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jad’an, Imam Ahmad mengatakan dia adalah perawi yang lemah, Ibnu Khuzaimah mengatakan: “Aku tidak bersandar dengan haditsnya karena lemahnya hapalannya”, disamping itu riwayat ini menyelisihi hadits shahih yang disebutkan di atas, yang mana kemerdekaan dari api neraka di setiap malam bulan Ramadhan. (Lihat kitab Silsilat Al Ahadist Adh Dha’ifah wa Al Maudu’ah, no. 871)

Wallahu a’lam.

Ahmad Zainuddin
Sabtu, 22 Sya’ban 1432H
Dammam, KSA

Berilmu Sebelum Ramadhan Tiba

Nasehat Menyambut Ramadhan

  1. Bersemilah Ramadhan oleh Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullah.
  2. Kajian Menjelang Ramadhan oleh Ustadz Abdullah Zaen, MA.
  3. Bekal Menyambut Ramadhan oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA.
  4. Menyambut Bulan Penuh Berkah oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA.
  5. Bagaimana Menyambut Ramadhan oleh Ustadz Zainal Abidin Lc.
  6. Marhaban Yaa Ramadhan oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.
  7. Renungan Awal Ramadhan oleh Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami.
  8. Muqaddimah Ramadhan 1 & 2 oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin, Lc.
  9. Menyambut Bulan Seribu Bulan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA.

Penentuan Waktu Puasa Ramadhan dan Hari Raya

  1. Penentuan Ramadhan dan Hari Raya oleh Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
  2. Kewajiban Ketaatan Kepada Pemerintah dalam Penetapan Hilal oleh Ustadz Badrusalam, Lc. dan Ustadz Firanda Andirja, MA.
  3. Penentuan Awal Bulan (Ramadhan dan Syawwal) oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin, Lc.
  4. Menyikapi Perbedaan Idul Adha oleh Ustadz Zainal Abidin, Lc.
  5. Haruskah Ta’at Pemerintah dalam Penentuan Waktu Ramadhan dan Lebaran oleh Ustadz Zainal Abidin, Lc.

Fiqih Puasa Ramadhan

  1. Puasa Bersama Nabi oleh Ustadz Maududi Abdullah.
  2. Berpuasa di Bulan Ramadhan oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.
  3. Risalah Ramadhan oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.
  4. Bekal Ibadah Menuju Ramadhan oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.
  5. Sifat Puasa Nabi oleh Ust. Abdurrahman Thayyib, Lc.
  6. Sifat Puasa Nabi oleh Ust. Yazid Jawas.
  7. Hukum & Keutamaan Romadhan oleh Ustadz Abu Haidar.
  8. Penyimpangan di Bulan Ramadhan oleh Ustadz Badrusalam, Lc.
  9. Sunnah-sunnah Nabi di Bulan Ramadhan oleh Ustadz Dr. Aspri Rahmat.
  10. Hal-hal yang Membatalkan Puasa dan Seputar Shalat Tarawih oleh Ustadz Firanda, MA.
  11. Bid’ah-Bid’ah di Bulan Ramadhan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan.
  12. Orang-Orang yang Mendapat Keringanan Tidak Berpuasa oleh Ustadz Abdullah Roy, MA.
  13. Fatwa Fatwa Ramadhan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
  14. Fatwa Seputar Ramadhan oleh Ustadz Abu Abdurrahman Abdul Aziz as-Salafy.
  15. Majalis Syahri Ramadhan oleh Ustadz Aris Munandar, MA.
  16. Seputar Puasa Ramadhan oleh Ustadz Abduh Tuasikal.
  17. Pembatal-Pembatal Puasa, Mengqadha Puasa, Puasa Sunnah, I’tikaf oleh Ustadz Zulkarnain.

Hadits-Hadits Seputar Puasa Ramadhan

  1. Koleksi Hadits Seputar Puasa Ramadhan oleh Tim Radio Hang Batam
  2. Syarah Hadits-Hadits yg Berkaitan dengan Bulan Ramadhan oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.
  3. Hadits Shohih dan Dho’if Seputar Puasa Ramadhan oleh Ust. Abu Abdurrahman Abdul Aziz as-Salafy.
  4. Syarah Beberapa Hadits Tentang Puasa oleh Ustadz Mizan Qudsiah, Lc.

Nasehat Ramadhan

  1. Kiat Agar Ramadhan Menjadi Indah oleh Ustadz Abdullah Zaen, MA.
  2. Bedah Buku “Bersemilah Ramadhan” oleh Ustadz Jazuli.
  3. Ramadhan, Sarana Mensucikan Hati dan Menjaga Lisan oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.
  4. Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Lailatul Qadar oleh Ustadz Mizan Qudsiah, Lc.
  5. Renungan Ramadhan (Khutbah Jum’at) oleh Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami.
  6. Bekal Meraih Berkah Ramadhan oleh Ustadz Abduh Tuasikal
  7. Pesan Ramadhan oleh Ustadz Dr. Ali Musri

Fiqih Sholat Tarawih (Qiyam Ramadhan)

  1. Hukum Seputar Qiyam Ramadhan oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA.
  2. Hukum Dan Tata Cara Qiyamu Ramadhan oleh Ustadz Mizan Qudsiah, Lc.
  3. Shalat Tarawih (shalat witir, tarawih, qiyamul lail dan tahajjud) Ustadz. Zainal Abidin Syamsuddin, Lc.
  4. Menghidupkan Malam Bulan Ramadhan Dengan Sholat Tarawih oleh Ustadz Abduh Tuasikal.
  5. Ramadhan dan Qiyamullail oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin, Lc.
  6. Hukum Seputar Sholat Tarawih oleh Ustadz Aris Sugiyantoro.

Lailatul Qadar dan I’tikaf Ramadhan

  1. I’tikaf di bulan Ramadhan oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin, Lc.
  2. Seputar Lailatul Qadar & I’tikaf oleh Ustadz Abdullah Hadrami.
  3. Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Lailatul Qadar oleh Ustadz Mizan, Lc.
  4. Tentang Tarawih dan Malam Lailatul Qadar oleh Ustadz Abdussalam.
  5. Meraih Keutamaan Malam Lailatul Qadr oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, MA.

Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan dan Do’a-Do’a yang Disunnahkan

  1. Ramadhan Syahrul Qur’an oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.
  2. Bersama Al-Quran di Bulan Ramadhan oleh Ustadz Abul Afnan Ayman Kamel Darojat.
  3. Doa-doa di bulan Ramadhan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, MA.
  4. Al Qur’an dan Ramadhan oleh Ustadz Dr. Ali Musri

Fiqih Zakat Fitrah

  1. Zakat Fitri oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, MA.
  2. Bagaimanakah Tata Cara Zakat Fitri yang Sesuai Sunnah oleh Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullah.
  3. Zakat Fitrah oleh Ustadz Abu Abdurrahman Abdul Aziz as-Salafy.
  4. Fiqih Zakat Fitrah dan Iedul Fitri oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.

Fiqih Zakat Harta

  1. Kemuliaan Syariat Zakat oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
  2. Sejarah Zakat oleh Ustadz Abdullah Hadrami.
  3. Kitab Zakat oleh Ustadz Maududi Abdullah.
  4. Panduan Praktis Zakat oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
  5. Kitab Zakat oleh Ustadz Dzulkarnain.
  6. Penjelasan Tentang Zakat oleh Ustadz Maududi Abdullah.
  7. Urgensi Zakat, Hukum, Hikmah, Faedah dan Ancaman oleh Ustadz Abdullah Hadrami
  8. Panduan Praktis Menghitung Zakat oleh Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc.
  9. Golongan yg Berhak Menerima Zakat oleh Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami.
  10. Harta yg Wajib di Zakati oleh Abdullah Shaleh Hadrami.

Fiqih Iedul Fitri & Iedul Adha

  1. Berhari Raya Sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam oleh Ust. Anas Burhanuddin, MA.
  2. Fiqih Iedul Fitri oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.
  3. Fiqh Idul Fitri oleh Ustadz Badrusalam.
  4. Hikmah Penetapan Idul Fitri dan Idul Adha oleh Dr. Ustadz Arifin Badri, MA.
Nasehat Pasca Ramadhan
  1. Nasihat bagi Muslim Setelah Romadhon oleh Ustadz Badrussalam, Lc.
  2. Renungan Ba’da Ramadhan oleh Ustadz Abdullah Hadrami.
  3. Ada Apa Setelah Ramadhan oleh Ustadz Abdullah Hadrami.

Tanya Jawab

  1. Apakah Derajat Hadits yg Membagi Bulan Ramadhan Menjadi 3 Bagian
  2. Bolehkah Mengkhususkan Ziarah Kubur Saat Ramadhan
  3. Mengapa Pada Bulan Ramadhan Tetap Ada Maksiat Meskipun Setan Sudah Dibelenggu
  4. Apakah Syaitan Dibelenggu Secara Fisik Saat Ramadhan
  5. Bagaimana Menyikapi Perbedaan Penentuan Satu Ramadhan dan Satu Syawal
  6. Apa Benar Orang yang Belum Melunasi Hutang Puasa maka Puasa Berikutnya Tidak Diterima
  7. Apa Hukum Memundurkan Buka Puasa dan Menyegerakan Sahur untuk Berjaga-Jaga
  8. Apakah Ada Dalilnya Qunut Witir 15 hari Terakhir Ramadhan
  9. Apakah Ibu yang Hamil dan Menyusui Wajib Qodho’ Puasa atau Cukup Membayar Fidyah
  10. Bagaimana Caranya Semangat Membaca Al-Quran Selama Ramadhan
  11. Bagaimana Cara Qunut Witir Secara Berjamaah
  12. Bagaimana Dengan Tradisi – Tradisi Sebelum dan Selama Ramadhan
  13. Bagaimana Menjaga Diri Selama Ramadhan dari Perbuatan Ghibah
  14. Bagaimana Semangat Ibadah Selama Ramadhan dapat Dipertahankan Diluar Ramadhan
  15. Bolehkah Jima’ dengan Istri Setelah Sahur
  16. Bolehkah Sholat Tarawih Berjamaah
  17. Hukum Merutinkan Ceramah (Kultum) Antara Sholat Tarawih dan Witir
  18. Punya Penyakit Maag Kronis, Apakah Cukup Membayar Fidyah
  19. Shahihkah Hadist yang Membagi Bulan Ramadhan Dibagi Menjadi Tiga Bagian
  20. Bagaimana Asal Muasal Halal Bihalal
  21. Bolehkah Merutinkan Sholat Lail Rutin Setelah Sholat Isya’ dan Ceramah
  22. Bolehkah Sholat Tahajud Setelah Sholat Tarawih
  23. Ibadah Apa Saja yang Boleh Dilakukan Saat I’tikaf
  24. Samakah Sholat Qiamullail dengan Tarawih

 

E-Book Seputar Ramadhan

  1. ebook ilmiah untuk bekal Ramadhan oleh berbagai sumber yang dikumpulkan oleh web blog.assunnah.web.id
  2. ebook kumpulan tanya jawab seputar Ramadhan oleh konsultasisyariah.com

 

ref: kajian.net

Awan Tag