Mendakwahkan Tauhid, Menebarkan Sunnah

Posts tagged ‘Salafi’

Tauhid kan Allah!

Ternyata masih ada orang yang menyangsikan keshahihan klasifikasi tauhid menjadi tiga; Tahuid Rububiyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Asma’ was Sifat, bahkan ada yang mengingkarinya. Parahnya, dia menyamakan klasifikasi tauhid ini dengan aqidah trinitas Nasrani. Padahal pembagian tauhid menjadi tiga merupakan klasaifikasi syar’i, didukung nash-nash syar’i dan diakui para ulama mu’tabar. Tokoh para pengikar itu adalah seorang jahmi (penganut madzhab Jahmiyah) yang menamakan dirinya Hasan bin Ali As Saqqaf.  Dialah yang menyamakan klasifikasi dengan trinitas. Suatu keanehan yang jarang ditemukan padanannya sekaligus menunjukkan dirinya sebagai orang yang jahil dan wujud sikap tidak senonoh terhadap nash syar’i dan para ulama, Allohul Musta’an.

Macam-macam Tauhid

Tauhid Rububiyah yaitu pengakuan bahwa Allah adalah Rabb segala sesuatu, Pemilik, Pencipta dan Pemberi rizki, Allah adalah Dzat Yang  Menghidupkan, Mematikan, Pemberi manfaat, Penimpa kemadharatan, Yang berhak mengabulkan do’a dan Pemilik seluruh urusan. Seluruh kebaikan di tangan-Nya, Berkuasa atas segala sesuatu, tidak memiliki sekutu satupun pada semua hak-hak-Nya. Termasuk dalam Tauhid ini adalah Iman kepada takdir.

Tauhid Asma was Sifat yaitu pengakuan bahwa Allah Maha Tahu, Berkuasa atas segala sesuatu, Maha Hidup, tidak ditimpa kantuk dan tidur. Pemilik kehendak yang pasti terlaksana dan hikmah yang mendalam. Maha Mendengar, Melihat, Pengasih dan Penyayang. Dia Raja, Yang Maha Suci, Yang mengaruniakan keselamatan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang memiliki sifat sombong, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan, dan nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia lainnya. Kita harus mengimani nama-nama dan sifa-sifat ini dengan kuat, tidak boleh mentahrif (menyelewengkan), ta’thil (meniadakan), takyif (menggambarkan) dan tamtsil (menyerupakan).

Tauhid Uluhiyah, dibangun di atas keikhlasan beribadah kepada Allah, baik dalam mahabah (kecintaan), takut, harapa, tawakal, raghbah (takut semuanya harus ditunjukan kepada Allah. Tauhid ini dikandung oleh Firman-Nya;

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (Q.S.Al-Fatihah:4).

Tauhid ini merupakan permulaan dan akhir agama, isi dan lahir agama, dakwah yanag pertama kali diserukan para rasul dan dakwah yang paling akhir. Tauhid ini adalah makna Lailah Illalah, sebab ilah artinnya ma’luf (sesembahan), disembah dengan penuh kecintaan, rasa takut, pemuliaan dan pengagungan. Makhluk diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan untuk merealisasikkan tauhid ini. Tauhid ini memisahkan antara orang mukmin dan kafir, penduduk surga yang bahagia dan penduduk neraka yang celaka.

DALIL-DALILTIGA MACAM TAHUID

Dalil dan bukti tiga macam tahuid ini sangat banyak, termaktub dalam Al-Qur-an  dan Sunnah. Orang yang memiliki perhatian sedikit saja terhadap nash-nash Al-Qur-an dan As Sunnah pasti mengetahuinya. Bahkan siapapun yang hafal surat Al-Fatihah dan surat An-Naas pasti menemukan di dalamnya bukti-bukti yang sangat jelas dan mencukupi adanyan tiga macam tauhid ini.

  1. Bukti Tauhid Rububiyah

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Al A’raf : 54)

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. (Q.S. Ar Ra’d : 16).

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat  menetap dan langit  sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebagian yang baik-baiknya. Yang demikian itu adalah Allah Rabbmu, Maha Agung Allah, Rabb semesta alam. (Q.S.Al-Mukmin:64) (Lihat juga surat Al-Mu’minun : 83-89, Az-Zumar : 6 dan selainnya).

2.                  Bukti Tauhid Uluhiyah

اْلحَمْدُ اللهِ

Segala puji bagi Alloh. (Q.S Al-fatihah: 1)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (Q.S.Al-Fatihah: 4).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Q.S.Al-Baqarah : 21)

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang Aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.(Q.S. Az-Zumar; 14). (Lihat juga ayat 2,3 dan 15).

3.                  Bukti Tauhid Asma Was Sifat.

الرّحمن الرّحيم

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Fatihah :2)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

Katakanlah: “Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman  dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik). (Q.S.Al-Isra:110)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik) (Q.S.Thaha:8). Lihat juga surat As-Syura : 11 akhir surat Al-Hasyr dll.

Ayat-ayat Mencakup Tiga Macam Tauhid

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)? (Q.S. Maryam : 65).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dilalah (penunjukkan) ayat tersebut, “Ayat ini mencakup pokok-pokok yang agung (mencakup tiga macam tauhid). Tauhid Rububiyah yakni Allah Rabb segala sesuatu, Penciptanya, Pemberi rizki dan pengaturnya. Tauhid Uluhiyah ibadah yakni Alloh adalah ilah, ma’bud (sesembahan). Dikarenakan rububiyah mengharuskan ibadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, oleh sebab itu Alloh melanjutkan firman-Nya dengan huruf ف (fa’)     فاعبد ه . Hal ini menunjukan sebab (mengapa Dia harus diibadahi-pen). Maksudnya, (karena) Allah adalah Rabb segala sesuatu maka dia adalah sesembahan yang hak. Lantaran itu ibadahillah!.. Menunjukan kesempurnaan nama dan keagungan sifat-sifat-Nya. Tidak ada yang serupa, sepadan dan setara dengan-Nya, bahkan hanya Allah yang sempurna secara mutlak pada semua itu.” (Al-Mawahib Ar-Rabbaniyah minal Ayati Qur-aniyah hal. 44-45).

ALQURAN MENETAPKAN TIGA MACAM TAUHID

          Usai memaparkan macam-macam tauhid, Ibnul Qoyyim berkata, “Mayoritas surat-surat Al Qur-an bahkan seluruhnya mengandung dua macam tahuid ini (tauhid ma’tifat wal itsbat dan tauhid thalab wal qashad). Kesimpulannya kita katakan, sesungguhnya seluruh ayat Al Qur-an mengandung tauhid, mempersaksikannya dan mendakwahkannya. Karena Al-Qur-an itu adakalanya; (1)Informasi tentang Allah, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatanNya. Ini dinamakan tauhid ilmi al-Khabri (2) Mendakwahkan untuk beribadah kepada Allah saja dan menanggalkan semua peribadatan kepada selain-Nya. Ini dinamakan  tauhid Iradhi al-Thalabi. (3) Perintah, larangan dan kewajiban menjahui larangan-Nya  dan mantaati perintah-Nya. Ini adalah hak-hak dan penyempurnaan tauhid. (4) Informasi kemuliaan orang-orang yang bertauhid dan orang-orang yang taat, serta balasan yang mereka terima di dunia dan kemuliaan yang mereka dapat di akherat. Ini merupakan balasan tauhid (5) Informasi pelaku-pelaku kesyirikan dan adzab yang menimpa mereka  di dunia serta kesyirikan bagi meraka di akherat. Ini adalah informasi tentang orang-orang yang menyimpang dari hukum tauhid. Dengan demikian Al Qur-an seluruhnya tahuhid, hak-haknya, balasannya, informasi pelaku kesyirikan dan balasan bagi mereka. Maka الحمد الله   adalah tauhid,   رَبِّ اْلعَالَمِيْن   tauhid,   الرّحمن الرّحيم  tauhid,  مالك  يوم الدينtauhid, إياك نعبد   tauhid, وإياك نستعين tauhid,  اهدنا الراط المستقيم  tauhid, karena berupa permohonan petunjuk menuju jalan orang-orang yang bertauhid dan   غير المغضوب عليمم ولاالضالين  adalah orang-orang yang menyimpang dari tauhid.” (Madarijus Salikin 3/449-450).

PERKATAAN PARA SALAF

1.     Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit  رحمه الله(meninggal tahun 150.)

Beliau berkata dalam kitab Al-Fiqhul absath hal. 51. “Allah dimintai dari arah atas bukan dari arah bahwa karena arah bawah sama sekali tidak teramasuk sifat rububiyah dan uluhiyah.”

Ucapan beliau, “Allah dimintai dari arah atas bukan dari arah bawah” menetapkan sifat ‘uluw (ketinggian) bagi Allah. Ini termasuk tauhid asma’ was sifat, sekaligus sebagai bantahan terhadap Jahmiyah Asyairah, Maturidiyah dan golongan penafi sifat laninnya. Ucapannya ‘termasuk sifat rububiyah merupakan penetapan tauhid rububiyah dan ucapannya  ‘dan uluhiyah’ menetapkan tauhid uluhiyah.

2.     Ibnu Mandah رحمه الله

Dalam kitab At-Tauhid. Beliau meriwayatkan dari Abu Yusuf, Yakub bin Ibrahim Al-Kufi, murid Abu Hanifah, meninggal tahun 182 H berkata,  “Tauhid tidak  ditetapkan dengan kiyas (analogi). Tidakkah engkau mendengar firman Allah dalam ayat-ayat yang Allah mensifati diri-Nya dengan sifat Mengetahui, Kuasa dan Penguasa. Allah tidak berfirman, “Aku Mengetahui lagi kuasa, karena ini aku Kuasa, disebabkan itu Aku Mengetahui, dengan begitu aku menguasai. Oleh karena itu kiyas tidak diperkenalkan dalam Tauhid. Allah dikenal karena nama-namaNya dan sifat-sifat-Nya. Allah berfirman dalam  firman-Nya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.  (Q.S.Al-Baqarah : 21)

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan Telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu.(Q.S.Al-A’raf: 185)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut (Q.S Al-Baqarah :164).

Allah tidak berkata, “Perhatikan, bagaimana Aku (dinamakan) ‘Alim (Yang Mengetahui), Al-Qodir (Penguasa) dan Al-Khaliq (Pencipta), tetapi perhatikan bagaimana aku mencipta, lantas diikuti dengan firman-Nya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ

Allah menciptakan kamu, Kemudian mewafatkan kamu (Q.S.An-Nahl: 70)

Perkataan Abu Yufuf ini juga diriwayatkan oleh Imam Abul  Qashim Isamail Al-Ashbani, meninggal tahun 535 H dalam kitab beliau Al-Hujjatu fi Bayyanil Mahajjah Syarhu wa Madzhabi Ahli Sunnah.

Syaikh Dr. Ali Al Faqihi berkata, “Abu Yusuf menyebutkan ucapan yang bagus dalam bab tauhid. Ucapan tersebut sangat nampak dalam masalah tauhid  rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa sifat”. (Lihat catatan pinggir kitab Tauhid, Ibnu Mandah 3/310).

3.     Ibnu Jarir At-Thabari رحمه الله  (Meninggal tahun 310 H)

Ketika menafsirkan ayat

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa). (Muhammad:19).

Belia berkata, “Ketahuilah wahai Muhammad, tidak ada ilah yang patut dan layak memiliki sifat uluhiyah lantas kamu dan makhluk menyembahnya kecuali Allah. Dialah Pencipta makhluk, Penguasa segala sesuatu, semuanya mengakui rububiyah-Nya.”

4.     Imam Abu Jafar At-Thahawi  رحمه الله (meninggal tahun 321 H)

Dalam muqadimah kitabnya yang terkenal, Al-Aqidah At-Thahawiyah beliau berkata, “Ucapan kami dalam tauhid (pengesaan) Allah, dengan dilandasi keyakinan karena petunujuk-Nya, Allah adalah Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, tiada sesuatupun yang melemahkan-Nya dan tiada illah selain-Nya.

Ucapannya, “Tidak sesuatupun yang serupa dengan-Nya.”Mencakup tauhid asma wa sifat. Ucapan-Nya “Tiada sesuatupun yang melemahkan-Nya”adalah tauhid rububiyah dan ucapannya “Tiada illah selain-Nya” adalah uluhiyah.”

5.     Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti (meninggal tahun 354H)

Dalam muqadimmah kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala’ beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang Esa dalam uluhiyha-Nya, Esa dalam keagungan rububiyah-Nya, yang menguasai ajal dunia ini, yang mengetahui perubahan dan keadaan alam, Yang menganugerahkan kepada mereka dan yang mengaruniakan nikmat yang melimpah kepada mereka. Dialah yang menciptakan makhluk jika menghendaki tanpa pembantu dan penolong. Mencipatakan manusia tanpa ada yang mampu menandingi. Dengan demikian berlakulah kehendak dan iradah-Nya pada makhluk….”

Dalam ucapannya ini beliau menyebutkan tiga macam tauhid: rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat.

6.     Imam Abu Abdilah Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al Ukburi (meninggal tahun 387 H)

Dalam kitabnya Al-Ibanah an Syari’atil Firqatin Najiyah wa Mujanabatil Firaqil Madzmumah, berkata: Hal itu karena pokok keimanan kepada Allah yang wajib bagi makhluk menyakinkan dalam penetapaan keimanan tersebut ada tiga macam.

  1. Hamba harus menyakini rububiyah Allah supaya berbeda dengan madzab orang-orang batil yang tidak menetapkan adanya pencipta.
  2. Hamba harus meyakini uluhiyah-Nya, supaya berbeda dengan madzhab orang-orang yang berbuat syirik. Mereka menetapkan adanya pencipata tetapi disekutukan dengan  selain-Nya.
  3. Harus menyakini bahwa Allah memilik sifat yang  hanya Dialah yang memilikinya, seperti sifat megetahui, berkuasa, hikmah dan seluruh sifat yang Allah mensifati Diri-Nya dengan sifat tersebut. Hal ini karena kita mengetahui banyak orang yang menetapkan wujud Allah dan mentauhidkan-Nya dengan ucapan global namun terkadang dia menyelewengkan sifat Allah. Dengan begitu tauhidnya menjadi ternoda. Dan karena kita  mendapati Allah membicarai para hamba-Nya dengan mengajak mereka untuk meyakini tiga macam tauhid ini dan mengimaninya.

    7.     Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq

Dalam Kitabut Tauhid Wa Ma’rifati Asma’illahi Azza wa Jalla wa Sifathi alat Tifaaqi at Tafarrudi, menyebutkan macam-macam tauhid dan menyebutkan dalil-dalil yang banyak dari Al-Qur’an dan Sunnah disertai penjelasan dan uraian yang sangat baik.

Syaikh kami, Ali bin Nashir Faqihi dalam muqadimah tahqiq kitab ini berkata.  “Penulis kitab ini hidup pada abad ke empat Hijiriyah (310-395). Kitabnya mencakup tiga macam tauhid yang termaktub dalam kitab Allah. Tauhid Rububiyah,Tauhiid Uluhiyah dan Tauhid Asma  wa sifat…”

8.     Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid At-Thurthusi, (meninggal tahun 520H).

Dalam muqadimah  kitab Siraj Muluk 1/7 berkata, “Aku mempersaksikan bagi-Nya Dengan Sifat Rububiyah dan Wahdaniyah dan dengan apa yang Dia persaksikan untuk Diri-Nya berupa nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia. lantas menyebutkan tiga macam tauhid ini.

9.     Abu Abdillah Muhammad  bin Ahmad Al-Qurthubi (meninggal tahun 671 H)

Dalam Tafsirnya 1/7 ,  beliau berkata, “Allah adalah nama sesuatu yang wujud, haq yang mencakup sifat-sifat ilahiyah, tersifati dengan rububiyah dan Dialah yang memiliki wujud hakiki, tiada ilah selain-Nya.”

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Syubhat: Pada halaman 3, Hasan As-Saqqaf berkata “Ini kitab yang ringkas  (maksudnya adalah buku hitam yang dia tulis dengan judul At Tandid bi Man ‘Adadat Tauhid Wa Ibhtolum Muhawwalatut Tatslits fii At Tauhid –red) dan cahaya yang menerangi. Dalam kitab ini aku bantah trinitas dalam klasifikasi tauhid menjadi tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah dan tauhid asma wa sifat.

Bantahan. Tirintas adalah aqidah Nasrani yang jelek, didasarkan pada keyakinan Tuhan itu  ada tiga, yaitu tuhan bapak, tuhan anak dan ruh quddus. Aqidah ini dikafirkan Allah dalam ayat yang gamblang, firman-Nya.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Maidah: 73-74)

Sedangkan  klasifikasi tauhid menjadi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma was sifat, atau menjadi dua; tauhid makrifat wal itsabat mencakup tauhid rububiyah dan tauhid asma was sifat,dan tauhid irodah wat thalab, nama lain dari tauhid uluhiyah, merupakan aqidah seluruh kaum muslimin yang beriman kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, kecuali ahlul bid’ah yang sesat. Dalil-dalilnya sangat banyak.

Syubhat. Pada halaman 3 Hasan As-Saqqaf berkata, “Apalagi klasifikasi tauhid ini sama sekali tidak dikenal salaf tetapi diadakan-adakan dan baru tersiar setelah abad  ketujuh Hijriyah.

Pada halaman 6 As Saqqaf berkata, “Allah Ta’ala dalam Al Qur-an dan Nabi dalam sunannya tidak pernah menyebutkan tiga macam tauhid ini; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma was sifat. Bahkan tidak ada satupun sahabat, tabi’in dan ulama salaf shalih yang mengucapkannya, semoga Allah meridahi mereka semua. Klasifikasi ini bid’ah zaman akhir, tercela, dimuculkan pada abad ke delapan hijriyah setelah meninggalnya nabi sekitar delapan ratus tahun. Sebelum itu tidak satupun orang yang mengucapkannya.”

Pada halaman 10 berkata, “Ibnu Taimiyahlah yang menciptakan klasifikasi tauhid menjadi uluhiyah dan rububiyah…”

Bantahan. Dalil-dalil tiga macam tauhihd ini sangat banyak, termaktub dalam Al-Qur-an dan Sunnah. Orang yang memiliki perhatian sedikit saja terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah pasti mengetahuinya.  Bahkan siapapun yang hafal surat Al-Fatihah dan Surat An-Naas pasti menemukan di dalamnya bukti-bukti yang sangat jelas dan mencukupi adanya tiga macam tauhid ini. Tidak hanya itu, klasifikasi ini merupakan hakikat syar’iyyah paling agung yang ditetapkan Al-Qur’an dan Sunnah. Dalil-dalil tersebut telah disebutkan dimuka. Hampir-hampir tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sesat dan menyimpang karena dalil-dalil tersebut sangat gamblang dan agung.

Adapun ucapannya, “Ibnu Taimiyahlah yang menciptakan klasifikasi tauhid uluhiyah dan rububiyah, tidak dikatakan oleh satupun dari kalangan ulama salaf dan  tidak munucul kecuali pada abad ke delapan Hijriyah, menunjukkan kedangkalan ilmunya, minimnya pengalaman dan pengetahuannya dengan kitab-kitab salaf, karena kitab-kitab tersebut banyak memuat tiga macam tauhid ini baik secara tegas atau sekedar isyarat. Lihat kembali perkataan para salaf di muka, itupun baru sebagian. Para ulama tersebut meninggal sebelum Ibnu Taimiyah. Perkataan mereka itu sarat dengan klasifikasi tauhid tiga  ini dengan ungkapan yang sangat gamblang. Tidak ada yang mengingkarinya keculai ahlu bid’ah, orang  yang sesat dan menyimpang.

Lantas apa yang akan dikatakan As-Saqqaf dan pendahulunya dihadapan nash-nash Ahlu Sunnah yang sangat jelas dan gamblang yang menetapkan tiga macam tauhid ini? Apakah dia akan mengatakan, “Mereka hanya mengekor madzhab Ibnu Taimiyah yang batil? Anehnya lagi As-Saqqaf mengatakan, “Ibnu Taimiyah Wahhabi”padahal Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan beberapa abad setelah Ibnu Taimiyah ! Allahul Mustaan.  

ref: yayasanalhanif.or.id

Iklan

Apa lagi alasanmu menolak manhaj salaf?

Adalah suatu fenomena yang kita saksikan dan tidak bisa dipungkiri bahwasanya ummat Islam sudah terpecah belah menjadi beberapa golongan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengabarkan bahwasanya ummatnya akan terpecah menjadi 73 golongan (dan ini sudah terjadi), semuanya masuk neraka kecuali satu golongan yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para shahabatnya.

Akan tetapi, ketika ditanyakan kepada golongan-golongan tersebut, mereka menjawab bahwasanya mereka berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah bahkan masing-masing golongan menyatakan golongannyalah yang benar sedangkan yang lainnya salah/sesat, bersamaan dengan itu kita ketahui dan saksikan bahwa golongan-golongan tersebut satu sama lainnya saling bertentangan, bermusuhan bercerai-berai dan tidak berada dalam satu manhaj yang menyatukan mereka. Hal ini seperti dikatakan di dalam sya’ir: “Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila akan tetapi Laila tidak mengakuinya

Untuk itu satu hal yang pasti bagi kita bahwasanya kebenaran itu hanya satu dan tidak berbilang yaitu golongan yang benar dan selamat hanya satu yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para shahabatnya (salaf) sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang mutawatir. Dengan kata lain golongan yang selamat tersebut adalah orang-orang yang memahami dinul Islam dengan pemahaman salafush shalih (manhaj salaf).

Sedangkan manhaj salaf adalah suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dinul Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut Salafy atau As-Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As-Salafiyyun.

Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: “As-Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala` 6/21).

Kemudian di sini akan dikemukakan sebagian dalil-dalil yang menyatakan bahwa manhaj yang benar dalam memahami agama adalah manhaj salaf serta kewajiban bagi kita untuk mengikuti manhaj tersebut, yaitu:

1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :”Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al-Fatihah:6-7).

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya?, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah (Syi’ah).” (Madarijus Salikin 1/72).

Hal ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami agama ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus pula.

2. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah:143).

Allah telah menjadikan mereka orang-orang pilihan lagi adil, mereka adalah sebaik-baik ummat, paling adil dalam perkataan, perbuatan serta keinginan mereka, karena itu mereka berhak untuk menjadi saksi atas sekalian manusia, Allah mengangkat derajat mereka, memuji mereka serta menerima mereka dengan penerimaan yang baik.
Dengan ini jelaslah bahwasanya pemahaman para shahabat merupakan hujjah atas generasi setelah mereka dalam menjelaskan nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah.

3. “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran:101).

Para shahabat adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah, karena Allah adalah pelindung bagi siapa saja yang berpegang teguh kepada (agama)-Nya sebagaimana firman Allah: “Dan berpeganglah kalian pada tali Allah. Dia adalah pelindung kalian maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj:78).
Dan telah dimaklumi bahwasanya perlindungan dan pertolongan Allah kepada para shahabat sangat sempurna, hal tersebut menunjukkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, mereka adalah orang-orang yang memberi petunjuk dengan persaksian dari Allah.

4. “Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran:110).
Allah telah menetapkan atas mereka keutamaan atas sekalian ummat, hal tersebut karena keistiqamahan mereka pada segala hal, karena mereka tidak akan melenceng dari jalan yang lurus, Allah telah bersaksi atas mereka bahwasanya mereka menyuruh kepada setiap yang ma’ruf, mencegah dari setiap kemunkaran, berdasarkan hal tersebut merupakan suatu keharusan bahwasanya pemahaman mereka merupakan hujjah bagi generasi setelahnya hingga Allah menetapkan putusannya.

5. “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`:115).
Berkata Al-Imam Ibnu Abi Jamrah Al-Andalusi: “Para ‘ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi pertama dari ummat ini,?.” (Al-Mirqat Fi Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37).
Syaikhul Islam berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin-red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa 7/38).

Maksud ayat tersebut, bahwasanya Allah mengancam siapa saja yang mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin (dengan neraka Jahannam), maka jelaslah bahwasanya mengikuti jalannya para shahabat dalam memahami syari’at Allah wajib hukumnya, sedangkan menyalahinya merupakan suatu kesesatan.

6. “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:100).

Makna dalil tersebut, bahwasanya Tuhan manusia memuji orang-orang yang mengikuti manusia terbaik, maka diketahui dari hal tersebut bahwasanya jika mereka mengatakan suatu pandangan kemudian diikuti oleh pengikutnya pantaslah pengikut tersebut untuk mendapatkan pujian dan ia berhak mendapatkan keridhaan, jika sekiranya mengikuti mereka tidak membedakan dengan selain mereka maka tidak pantas pujian dan keridhaan tersebut.

7. “Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan:74).
Maka orang-orang bertaqwa secara keseluruhan berimam kepada mereka. Adapun taqwa merupakan kewajiban, di mana Allah dengan gamblang menyebutkannya dalam banyak ayat. Tidak memungkinkan untuk menyebutkannya di sini, maka jelaslah bahwa berimam kepada mereka wajib, adapun berpaling dari jalan mereka akan menyebabkan fitnah dan bencana.

8. “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman:15).
Seluruh shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang kembali kepada Allah, maka Allah memberikan hidayah kepada mereka dengan perkataan yang baik, serta berbuat amal shalih.
Maka merupakan suatu kewajiban untuk mengikuti manhaj para shahabat dalam memahami agama Allah baik yang ada dalam Al-Qur`an ataupun As-Sunnah.

9. “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah:24).
Sifat-sifat yang disebutkan pada ayat tersebut di atas adalah berkenaan dengan sifat-sifat para shahabat Nabi Musa ‘alaihis salam, Allah mengabarkan bahwasanya Dia menjadikan mereka sebagai imam yang diikuti oleh orang-orang sesudah mereka karena kesabaran dan keyakinan mereka, jika demikian kesabaran dan keyakinan merupakan jalan untuk menjadi Imam (pemimpin) dalam agama.

Dan sangat dimaklumi bahwasanya shahabat-shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak dengan sifat-sifat tersebut daripada ummat Nabi Musa, mereka lebih sempurna keyakinan dan kesabaran dari segenap ummat, maka mereka lebih berhak untuk menjadi imam dan ini merupakan hal yang paten berdasarkan persaksian dari Allah dan pujian Rasulullah atas mereka.

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah adalah sebagai berikut:

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (generasi) pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).
Allah telah melihat hati-hati para shahabat Rasulullah di mana Dia mendapatkannya sebaik-baik hati para hamba setelah hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Dia memberikan kepada mereka pemahaman yang tidak dapat dijangkau oleh generasi berikutnya, karena itulah apa yang dalam pandangan shahabat merupakan suatu kebaikan demikian pula dalam pandangan Allah dan apa yang dalam pandangan shahabat jelek, jelek pula dalam pandangan Allah.

2. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami melaksanakan shalat maghrib bersama Rasulullah, lalu kami berkata: “Sekiranya kita tetap di sini hingga kita melaksanakan shalat ‘isya bersama beliau”, kemudian kami duduk, lalu beliau mendatangi kami seraya berkata: “Kalian masih tetap di sini?” kami berkata: “Ya Rasulullah, kami shalat bersama Engkau, kemudian kami berpendapat: kita duduk di sini hingga melaksanakan shalat ‘isya bersama Engkau.” Beliau berkata: “Ya”. Abu Musa berkata: “Kemudian beliau mengangkat kepalanya ke langit dan beliau sering melakukan hal tersebut, lalu beliau bersabda: “Bintang-bintang adalah penjaga langit, jika bintang-bintang telah redup, diberikan kepada langit persoalannya dan Aku adalah penjaga bagi shahabat-shahabatku, jika aku telah tiada maka persoalan akan diserahkan kepada shahabat-shahabatku, dan shahabat-shahabatku adalah penjaga ummatku, jika shahabat-shahabatku telah tiada maka persoalan diserahkan kepada ummatku”. (HR. Muslim).

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mencela shahabat-shahabatku, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq dengan emas sebesar gunung uhud, tidak dapat menyamai (pahala) satu mud infaq mereka, tidak pula setengahnya.” (Muttafaqun ‘alaih).

4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham?” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan lainnya dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, lihat Irwa`ul Ghalil no. 2455).

5. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Terus-menerus ada sekelompok kecil dari ummatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Muttafaqun ‘alaih dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dan ini adalah lafazh Muslim).

6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “?Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya: “Siapa dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “(golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada (di atasnya).” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash).

Sedangkan ucapan para ‘ulama akan wajibnya berpegang dengan manhaj salaf adalah:
Al-Imam Al-Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy-Syari’ah, Al-Ajurri hal. 63).

Al-Imam As-Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj as-salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al-Intishar li Ahlil Hadits, Muhammad bin ‘Umar Bazmul hal. 88).

Al-Imam Al-Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi shahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah 2/437-438).

Al-Imam Asy-Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf maka ia adalah kesesatan.” (Al-Muwafaqat 3/284).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa 4/155). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar ahlul bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa 4/155).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dinul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawab.

Maraji’:
1. Limadza Ikhtartu Manhaj Salaf, Asy-Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali;
2. Majalah Syari’ah ed. 04.

 
( http://fdawj.co.nr/ )

Saya Salafi? Perlukah…

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah ditanya : “Mengapa perlu menamakan diri dengan Salafiyah, apakah itu termasuk dakwah Hizbiyyah, golongan, madzhab atau kelompok baru dalam Islam ..?”

Jawaban.
Sesungguhnya kata “As-Salaf” sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radyillahu ‘anha :

“Artinya : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik “As-Salaf” bagimu adalah Aku”.

Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah “As-Salaf”. Satu contoh penggunaan “As-Salaf” yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah :

“Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf”.

“Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf”.

Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istillah Salaf karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya. Mereka berkata : “Seorang muslim tidak boleh mengatakan “saya seorang Salafi”. Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun ahlaq”.

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..?. Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini tidak diingkari ..?

Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju “Firqah Najiyah”. Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :

Pertama.
Menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.

Kedua.
Menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.

Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan Ishmah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.

Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan Ishmah (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Mengapa sandaran terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah belum cukup ..?

Sebabnya kembali kepada dua hal, yaitu hubungannya dengan dalil syar’i dan fenomena Jama’ah Islamiyah yang ada.

Berkenan Dengan Sebab Pertama :

Kita dapati dalam nash-nash yang berupa perintah untuk menta’ati hal lain disamping Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana dalam firman Allah :

“Artinya : Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri diantara kalian”.
[An-Nisaa : 59].

Jika ada Waliyul Amri yang dibaiat kaum Muslimin maka menjadi wajib ditaati seperti keharusan taat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah. Walau terkadang muncul kesalahan dari dirinya dan bawahannya. Taat kepadanya tetap wajib untuk menepis akibat buruk dari perbedaan pendapat dengan menjunjung tinggi syarat yang sudah dikenal yaitu :

“Artinya : Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al-Khalik”. [Lihat As-Shahihah No. 179]

“Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannan dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. [An-Nisaa : 115]

Allah Maha Tinggi dan jauh dari main-main. Tidak disangkal lagi, penyebutan Sabilil Mu’minin (Jalan kaum mukminin) pasti mengandung hikmah dan manfa’at yang besar. Ayat itu membuktikan adanya kewajiban penting yaitu agar ittiba’ kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah harus sesuai dengan pemahaman generasi Islam yang pertama (generasi sahabat). Inilah yang diserukan dan ditekankan oleh dakwah Salafiyah di dalam inti dakwah dan manhaj tarbiyahnya.

Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Sedangkan dakwah lainnya hanya akan mencabik-cabiknya. Allah berfirman :

“Artinya : Dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar”. [At-Taubah : 119]

Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya.

Adapun Berkenan Dengan Sebab Kedua :

Bahwa kelompok-kelompok dan golongan-golongan (umat Islam) sekarang ini sama sekali tidak memperhatikan untuk mengikuti jalan kaum mukminin yang telah disinggung ayat di atas dan dipertegas oleh beberapa hadits.

Diantaranya hadits tentang firqah yang berjumlah tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu. Rasul mendeskripsikannya sebagai :

“Dia (golongan itu) adalah yang berada di atas pijakanku dan para sahabatku hari ini”.

Hadits ini senada dengan ayat yang menyitir tentang jalan kaum mukminin. Di antara hadits yang juga senada maknanya adalah, hadits Irbadl bin Sariyah, yang di dalamnya memuat :

“Artinya : Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafair Rasyidin sepeninggalku”.

Jadi di sana ada dua sunnah yang harus di ikuti : sunnah Rasul dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Menjadi keharusan atas kita -generasi mutaakhirin- untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan kaum mukminin. Kita tidak boleh berkata : “Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa petunjuk Salafus As-Shalih”.

Demikian juga kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil di jaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan :”Saya seorang muslim (saja) atau bermadzhab Islam. Sebab semua firqah juga mengaku demikian baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lain. Apa yang membedakan kita dengan mereka ..?

Kalau kita berkata : Saya seorang muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah. ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya.

Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan : “Saya seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf”, atau disingkat “Saya Salafi”.

Kita harus yakin, bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah saja, tanpa manhaj Salaf yang berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, dan jihad, belumlah cukup.

Kita paham para sahabat tidak berta’ashub terhadap madzhab atau individu tertentu. Tidak ada dari mereka yang disebut-sebut sebagai Bakri, Umari, Utsmani atau Alawi (pengikut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Bahkan bila seorang di antara mereka bisa bertanya kepada Abu Bakar, Umar atau Abu Hurairah maka bertanyalah ia. Sebab mereka meyakini bahwa tidak boleh memurnikan ittiba’ kecuali kepada satu orang saja yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak berkata dengan kemauan nafsunya, ucapannya tiada lain wahyu yang diwahyukan.

Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengkritik itu, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai muslimin saja tanpa penyandaran kepada manhaj Salaf ; padahal manhaj Salaf merupakan nisbat yang mulia dan benar. Lalu apakah mereka (pengkritik) akan terbebas dari penamaan diri dengan nama-nama golongan madzhab atau nama-nama tarekat mereka .? Padahal sebutan itu tidak syar’i dan salah ..!?.

Allah adalah Dzat Maha pemberi petunjuk menuju jalan lurus. Wallahu al-Musta’in.

Demikianlah jawaban kami. Istilah Salaf bukan menunjukkan sikap fanatik atau ta’assub pada kelompok tertentu, tetapi menunjukkan pada komitmennya untuk mengikuti Manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu Waliyyut-Taufiq.

[Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya’ban 1414H, Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

Awan Tag